Devira123's Blog
Just another WordPress.com weblog

Sep
23
Look No Further!
Get Instant Access To Over 25,000 Greatest Tattoo Designs…

Join 1000s of satisfied members and find your dream tattoo today! We have members from over 38 countries and new ones are joining every day.

You can have access to more than 25,000 tattoo designs instantly and enjoy the simplicity of our website. All our content is updated regularly and new tattoo designs are added so you never run out of ideas.

Over 25,000 Tattoo Designs in 60 categories…
Abstract Tattoos
Chinese Tattoos
Fantasy Tattoos
Katakana Chart
Religious Tattoos
Alien Tattoos
Chinese Zodiac Signs
Fish Tattoos
Lizard Tattoos
Skeleton Tattoos
Angel Tattoos
Clown Tattoos
Flower Tattoos
Lotus Tattoos
Skull Tattoos
Animal Tattoos
Cross Tattoos
Gothic Tattoos
Lower Back Tattoos
Snake Tattoos
Asian Tattoos
Demon Tattoos
Heart Tattoos
Maori Tattoos
Sports Tattoos
Belly Button Tattoos
Devil Tattoos
Horse Tattoos
Mermaid Tattoos
Star Tattoos
Biker Tattoos
Dolphin Tattoos
Insect Tattoos
Monster Tattoos
Sun Tattoos
Bird Tattoos
Dragon Tattoos
Irish Tattoos
Native American
Symbol Tattoos
Butterfly Tattoos
Eagle Tattoos
Japanese Characters
Patriotic Tattoos
Tiger Tattoos
Cartoon Tattoos
Egyptian Tattoos
Japanese Tattoos
Pinup Tattoos
Tribal Tattoos
Celtic Tattoos
Fairy Tattoos
Kanji Symbols
Scorpion Tattoos
AND MUCH MORE…
Advertisements
Sep
23

<a href=”http://b8be10rvttkqvb98xx0ardxyb9.hop.clickbank.net/?tid=7810450&#8243; target=”_top”>Click Here!</a>

http://www.miamiinktattoodesigns.com/?hop=0

Sep
17

Cinta tak ubahnya seperti pohon yang tak selamanya terlihat segar. Daun-daun yang dulu hijau cerah mulai menguning, akhirnya coklat kaku. Bunga-bunganya yang pernah indah merekah kini layu. Beberapa ujung tangkai pun mulai tampak mengering.

Begitulah hidup. Tak ada yang tetap dalam hidup. Semuanya dinamis: bergerak dan berubah, tumbuh dan menyusut, berkembang dan tumbang. Apa pun dan siapa pun. Termasuk, cinta suami isteri.

Setidaknya, itulah yang kini dialami Bu Tati. Ibu lima anak ini merasakan ada yang berkurang dari suaminya. Tidak seperti dulu ketika anak masih satu, dua, hingga tiga. Apalagi ketika belum ada anak. Wah, terlalu jauh perbandingannya.

Saat dulu, suami Bu Tati tak pernah ketinggalan telepon ke rumah sebelum pulang kantor. Bahkan, sehari bisa tiga kali telepon. Kini, seminggu dua kali sudah teramat bagus. Itu pun karena ada yang mau ditanyakan.

Dulu, kemana pun Bu Tati pergi, suami selalu antar jemput. Paling tidak, mewanti-wanti agar ia berhati-hati. “Hati-hati, ya Dik. Bisnya sering kebut-kebutan,” ucap suami dengan penuh perhatian. Kini, menanyakan tujuan pergi pun sudah sangat bagus.

Dulu juga, suami kerap ngasih hadiah di hari-hari bersejarah. Di antaranya, hari kelahiran, dan tanggal pernikahan. Walau hadiah cuma pulpen, buku harian, atau Alquran saku. Tapi, kesan yang timbul begitu dalam. Kini, jangankan hadiah, ingat dengan momen itu saja sudah bagus.

Mengingat-ingat masa lalu, bikin Bu Tati mengoreksi diri. Apa yang salah. Kalau cinta dihubung-hubungkan dengan rupa, kenyataan itu mungkin bisa diterima. Ia memang bukan Tati dua belas tahun lalu. Banyak perubahan, memang. Tapi, mestikah cinta dan perhatian harus menyusut sebagaimana berkerutnya wajah dan tidak langsingnya tubuh. Apa layak itu jadi alasan.

Bukankah cinta terlihat dari pandangan mata hati. Bukan dari simbol-simbol fisik yang terlihat dari pandangan mata, yang bisa menyilaukan ketika ada cahaya dan buram di saat gelap. Bukankah cinta perpaduan dari senang, kagum, cocok, sayang. Bahkan, kasihan.

Tidak jarang, cinta tumbuh pesat dari akar kasihan. Bukan hal aneh jika seorang pemuda langsung melamar muslimah yang terusir dari rumahnya lantaran mengenakan busana muslimah. Ada juga muslimah yang dilamar lantaran statusnya sebagai anak yatim miskin.

Lalu, kenapa cinta suami Bu Tati bisa menyusut. Padahal kasih sayang Bu Tati tak pernah berkurang. Dengan lima anak, Bu Tati pun mesti giat menggali kasih sayang agar bisa merata ke anak-anaknya. Bukankah ini sebuah bukti bahwa adakalanya cinta tersangkut pada rupa.

Menjamin lestarinya kasih sayang memang bukan perkara mudah. Dan, lebih tidak mudah lagi menjamin bahwa kecantikan rupa tidak akan bergeser. Karena sudah kepastian Allah bahwa muda akan menapaki anak tangga usia menuju tua. Semakin banyak anak tangga yang ditapaki, makin berkurang nilai rupa.

Seorang teman Bu Tati pernah ngasih anjuran soal menjaga nilai rupa. Sang teman menganjurkan agar Bu Tati diet, senam, minum herba. Tiga hal itu mesti dilakukan teratur dan terus-menerus. “Repot memang. Tapi, itu penting. Supaya cinta suami tetap lestari,” ungkap sang teman beriring canda.

Ucapan teman itu menguatkan dugaan Bu Tati: cinta juga berbanding lurus dengan rupa. Boleh-boleh saja Bu Tati berdalih bahwa cinta melulu persoalan hati. Tapi, bukankah manusia tidak semata-mata terdiri dari hati dan rasa. Bukankah fisik juga bagian dari unsur manusia. Dan itu berarti keindahan rupa.

Jadi, bisa dibilang wajar kalau perhatian dan cinta suami menurun lantaran nilai rupa Bu Tati berkurang. Benarkah? Ah, rasanya tidak. Di simpangan ini, Bu Tati ragu mau menempuh jalan mana. Kok, sepertinya tidak adil. Kalau dulu, Bu Tati masih sempat ngurus kecantikan, kesegaran, dan kebugaran tubuh. Tapi, sekarang? Duduk istirahat saja sudah sangat sulit. Selalu saja ada kesibukan: anak sakit, anak mau berangkat sekolah, anak punya PR sekolah, anak mau makan, memasak menu kesukaan suami, mencuci, ngurus rumah. Dan masih segudang persoalan rumah lainnya. Itu pun belum termasuk tugas-tugas sosial masyarakat.

Nah, gimana mau diet, kapan mau fitnes, gimana bisa minum herba. Bukankah diet butuh pilihan dan keteraturan makanan yang sehat dan baik. Dan itu berhubungan erat dengan waktu dan uang. Begitu juga dengan fitnes dan herba. Sulit kan kalau waktu dan uangnya belum memadai. Jadi?

Harus ada langkah bersama supaya cinta tetap terawat. Tidak semua sangkutan-sangkutan yang bikin redupnya cahaya cinta bersumber dari Bu Tati. Bisa jadi, ada ketidakcocokan antara standar nilai rupa suami dengan kenyataan yang semestinya. Kalau nilai rilnya memang hanya lima puluh, standarnya jangan dipatok sembilan puluh. Susah ngejarnya. Paling tidak, selisi antara standar dengan kenyataan tidak lebih dari sepuluh. Dan nilai sepuluh ini bisa dikejar dengan diet dan senam sederhana. Kalau ada uang belanja lebih, bisa ditopang dengan herba.

Memang, kehangatan cinta bisa lahir dari stabilnya nilai rupa. Tapi, unsur emosi pun punya andil yang lumayan besar. Kalau cinta cuma berpatok pada langgengnya rupa, mungkin rumah tangga kakek nenek akan bubar massal.

Di sinilah seninya bagaimana suami isteri bisa memainkan emosi sehingga cinta menjadi indah untuk dinikmati. Kepiawaian mengelola emosi juga mampu menjadikan cinta lestari. Bayangkan, betapa jauhnya jarak usia antara Rasulullah saw dengan Aisyah: kira-kira empat puluh tiga tahun. Belum lagi kesenjangan intelektual dan rupa. Tapi, semua itu tidak jadi masalah lantaran irama emosinya begitu rapi dan indah. Rasulullah tidak perlu ragu berlomba lari bersama isterinya, mengecup kening isteri saat pergi ke masjid, bersenda gurau layaknya teman, berdiskusi layaknya guru dan murid, dan sebagainya.

Justru, unsur emosilah yang kadang dominan dari nilai rupa. Bu Tati punya kesadaran baru. Bahwa, merawat cinta merupakan upaya bersama mengelola nilai rupa agar tidak jatuh drastis. Dan, memainkan irama emosi dengan saling percaya dan saling membutuhkan.

Cinta memang tak ubahnya seperti pohon yang tidak selamanya segar. Karena pohon memang tidak akan pernah kokoh kalau hanya dinikmati kesejukan, keindahan, dan buahnya. Ia juga butuh siraman air, kesuburan tanah, dan pagar perlindungan.

tulisan ini dari bapak muhammadnuh di eramuslim

Aug
11

dari balik  jendela di kamarku

menyelinap seberkas cahaya

hingga ku terjaga sejenak

dari tidurku malam itu dan mimpiku yang indah

ketika daku membuka jendela

hingga mentari manyambut pagi

burung-burung pun memberika salam

dalam kesejukan

dan indahnya pagi

seandainya suasana pagi ini kan sepanjang hari

betapa bahagia

Saibury, 11 agustus 2010

Feb
10

Abul Fudhåil

Ada salah satu kaedah fiqih yang menyebutkan:

NIAT (ADALAH) SYARAT BAGI SELURUH AMAL

BAIK DAN RUSAKNYA AMALAN (ADALAH) KARENA NIAT

Kaidah ini adalah kaidah yang paling bermanfaat dan paling besar. Kaidah ini juga termasuk dalam seluruh bab bab ilmu. Baiknya amalan badaniyyah (amalan badan yang bukan termasuk ibadah) dan milaliyyah (amalan yang termasuk ibadah), yang berupa amalan hati ataupun amalan anggota badan hanyalah dengan niat (yang baik pula). Dan rusaknya amalan amalan ini adalah karena niat (yang rusak pula).

Ada salah satu kaedah fiqih yang menyebutkan:

NIAT (ADALAH) SYARAT BAGI SELURUH AMAL

BAIK DAN RUSAKNYA AMALAN (ADALAH) KARENA NIAT

Kaidah ini adalah kaidah yang paling bermanfaat dan paling besar. Kaidah ini juga termasuk dalam seluruh bab bab ilmu. Baiknya amalan badaniyyah (amalan badan yang bukan termasuk ibadah) dan milaliyyah (amalan yang termasuk ibadah), yang berupa amalan hati ataupun amalan anggota badan hanyalah dengan niat (yang baik pula). Dan rusaknya amalan amalan ini adalah karena niat (yang rusak pula).

Karena pentingnya bab ini (ikhlas), Imam Bukhari rahimahullhu ta’ala meletakkan hadits tentang ikhlas/niat sebagai bab pertama dan hadits pertama, sekaligus mukaddimah dalam kitab shahihnya. Hal ini dikarenakan beliau mengumpulkan hadits-hadits shahih hanya ingin meraih ridha Allah Subhanahu wa ta’ala dalam karyanya kitab ‘Shohih bukhari”. Demikianlah komentar Imam Ibnu hajar Al Asqalani rahimahullahu ta’ala dalam kitabnya “Fathul Baari” penjelasan terhadap kitab Shahih Bukhari (lihat: Fathul Baari dalam mukaddimah hadits pertama tentang niat). Begitu juga Imam Nawawi dalam kitabnya “Arbain” dan “Riyadhdhus Shalihin”. Manhaj inipun di ikuti oleh ulama salaf lainnya, maka sangatlah terhina jika ana yang menisbatkan diri ana untuk mengikuti salafush sholeh, tidak mengikuti jalan-jalan mereka.

Rosulullah shalallahu’alaihi wa salam bersabda, yang artinya:

Sesungguhnya amalan-amalan itu berdasarkan niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan, maka barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya adalah kepada Allah dan RasulNya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena untuk menggapai dunia atau wanita yang hendak dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang hijrahi”. (HR. Al-Bukhori: 1).

Berkata Abdurrohman bin Mahdi, yang artinya: “Kalau seandainya aku menulis sebuah kitab yang terdiri atas bab-bab maka aku akan menjadikan hadits Umar bin Al-Khattab yaitu hadits Al A’maalu bin Niyyaat di setiap bab” (Jami’ul Ulum 1/8).

Imam Asy-Syafi’i berkata, yang artinya: “Hadits ini adalah sepertiga ilmu” (Jami’ul ‘Ulum 1/9).

Imam Ahmad berkata, yang artinya: “Pokok-pokok Islam ada tiga hadits, hadits Umar rodiallahu’anhu, ”Hanya saja amal-amal itu berdasarkan niatnya”, hadits ‘Aisyah rodiallahu’anha, Barangsiapa yang berbuat perkara-perkara yang baru dalam agama ini yang bukan dari agama maka ia tertolak” dan hadits Nu’man bin Basyir rodiallahu’anhu ”Yang halal jelas dan yang haram jelas”. (Jami’ul ‘Ulum 1/9).

Sesungguhnya pembahasan tentang ikhlas adalah pembahasan yang sangat penting yang berkaitan dengan agama Islam yang hanif (lurus) ini, hal dikarenakan tauhid adalah inti dan poros dari agama dan Allah tidaklah menerima kecuali yang murni diserahkan untukNya sebagaimana firman Allah, “Hanyalah bagi Allah agama yang murni”. (QS. Az-Zumar : 3).

Maka perkara apa saja yang merupakan perkara agama Allah jika hanya diserahkan kepada Allah maka Allah akan menerimanya, adapun jika diserahkan kepada Allah dan juga diserahkan kepada selain Allah (siapapun juga ia) maka Allah tidak akan menerimanya, karena Allah tidak menerima amalan yang diserikatkan, Dia hanyalah meneriman amalan agama yang kholis (murni) untukNya. Allah akan menolak dan mengembalikan amalan tersebut kepada pelakunya bahkan Allah memerintahkannya untuk mengambil pahala (ganjaran) amalannya tersebut kepada yang dia syarikatkan, hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, yang artinya:

Allah berfirman, yang artinya: “Aku adalah yang paling tidak butuh kepada syarikat, maka barangsiapa yang beramal suatu amalan untuku lantas ia mensyerikatkan amalannya tersebut (juga) kepada selainku maka Aku berlepas diri darinya dan ia untuk yang dia syarikatkan” (HR. Ibnu Majah 2/1405 no. 4202, dan ia adalah hadits yang shahih, sebagaimana perkataan Syaikh Abdul Malik Ar-Romadhoni, adapun lafal Imam Muslim (4/2289 no 2985) adalah, “aku tinggalkan dia dan ksyirikannya”).

Berkata Syaikh Sholeh Alu Syaikh, “Lafal ‘amalan’ disini adalah nakiroh dalam konteks kalimat syart maka memberi faedah keumuman sehingga mencakup seluruh jenis amalan kebaikan baik amalan badan, amalan harta. Maupun amalan yang mengandung amalan badan dan amalan harta (seperti haji dan jihad)”. (At-Tamhid hal. 401).

Definisi ikhlas menurut etimologi (menurut peletakan bahasa)

Ikhlas menurut bahasa adalah sesuatu yang murni yang tidak tercampur dengan hal-hal yang bisa mencampurinya. Dikatakan bahwa “madu itu murni” jika sama sekali tidak tercampur dengan campuran dari luar, dan dikatakan “harta ini adalah murni untukmu” maksudnya adalah tidak ada seorangpun yang bersyarikat bersamamu dalam memiliki harta ini.

Definisi ikhlas menurut istilah syar’i (secara terminologi)

Syaikh Abdul Malik menjelaskan, Para ulama bervariasi dalam mendefinisikan ikhlas namun hakikat dari definisi-definisi mereka adalah sama. Diantara mereka ada yang mendefenisikan bahwa ikhlas adalah “menjadikan tujuan hanyalah untuk Allah tatkala beribadah”, yaitu jika engkau sedang beribadah maka hatimu dan wajahmu engkau arahkan kepada Allah bukan kepada manusia. Ada yang mengatakan juga bahwa ikhlas adalah “membersihkan amalan dari komentar manusia”, yaitu jika engkau sedang melakukan suatu amalan tertentu maka engkau membersihkan dirimu dari memperhatikan manusia untuk mengetahui apakah perkataan (komentar) mereka tentang perbuatanmu itu. Cukuplah Allah saja yang memperhatikan amalan kebajikanmu itu bahwasanya engkau ikhlas dalam amalanmu itu untukNya.

Dan inilah yang seharusnya yang diperhatikan oleh setiap muslim, hendaknya ia tidak menjadikan perhatiannya kepada perkataan manusia sehingga aktivitasnya tergantung dengan komentar manusia, namun hendaknya ia menjadikan perhatiannya kepada Robb manusia, karena yang jadi patokan adalah keridhoan Allah kepadamu (meskipun manusia tidak meridhoimu).

Ada juga mengatakan bahwa ikhlas adalah “samanya amalan-amalan seorang hamba antara yang nampak dengan yang ada di batin”, adapun riya’ yaitu dzohir (amalan yang nampak) dari seorang hamba lebih baik daripada batinnya dan ikhlas yang benar (dan ini derajat yang lebih tinggi dari ikhlas yang pertama) yaitu batin seseoang lebih baik daripada dzohirnya, yaitu engkau menampakkan sikap baik dihadapan manusia adalah karena kebaikan hatimu, maka sebagaimana engkau menghiasi amalan dzohirmu dihadapan manusia maka hendaknya engkaupun menghiasi hatimu dihadapan Robbmu.

Ada juga yang mengatakan bahwa ikhlas adalah, “melupakan pandangan manusia dengan selalu memandang kepada Allah”, yaitu engkau lupa bahwasanya orang-orang memperhatikanmu karena engkau selalu memandang kepada Allah, yaitu seakan-akan engkau melihat Allah yaitu sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam tentang ihsan “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya dan jika engkau tidak melihatNya maka sesungguhnya Ia melihatmu”.

Barangsiapa yang berhias dihadapan manusia dengan apa yang tidak ia miliki (dzohirnya tidak sesuai dengan batinnya) maka ia jatuh dari pandangan Allah, dan barangsiapa yang jatuh dari pandangan Allah maka apalagi yang bermanfaat baginya? Oleh karena itu hendaknya setiap orang takut jangan sampai ia jatuh dari pandangan Allah karena jika engkau jatuh dari pandangan Allah maka Allah tidak akan perduli denganmu dimanakah engkau akan binasa, jika Allah meninggalkan engkau dan menjadikan engkau bersandar kepada dirimu sendiri atau kepada makhluk maka berarti engkau telah bersandar kepada sesuatu yang lemah, dan terlepas darimu pertolongan Allah, dan tentunya balasan Allah pada hari akhirat lebih keras dan lebih pedih. (Dari ceramah beliau yang berjudul ikhlas. Definisi-definisi ini sebagaimana juga yang disampaikan oleh Ahmad Farid dalam kitabnya “Tazkiyatun Nufus” hal. 13).

Berkata Syaikh Abdul Malik, “Ikhlas itu bukan hanya terbatas pada urusan amalan-amalan ibadah bahkan ia juga berkaitan dengan dakwah kepada Allah. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam saja (tetap) diperintahkan oleh Allah untuk ikhlas dalam dakwahnya”.

Katakanlah, “Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.”(QS. Yusuf: 108).

Yaitu dakwah hanyalah kepada Allah bukan kepada yang lainnya, dan dakwah yang membuahkan keberhasilan adalah dakwah yang dibangun karena untuk mencari wajah Allah. Aku memperingatkan kalian jangan sampai ada diantara kita dan kalian orang-orang yang senang jika dikatakan bahwa kampung mereka adalah kampung sunnah, senang jika masjid-masjid mereka disebut dengan masjid-masjid ahlus sunnah, atau masjid mereka adalah masjid yang pertama yang menghidupkan sunnah ini dan sunnah itu, atau masjid pertama yang menghadirkan para masyayikh salafiyyin dalam rangka mengalahkan selain mereka, namun terkadang mereka tidak sadar bahwa amalan mereka hancur dan rusak padahal mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat yang sebaik-baiknya.

Dan ini adalah musibah yang sangat menyedihkan yaitu syaitan menggelincirkan seseorang sedikit-demi sedikit hingga terjatuh ke dalam jurang sedang ia menyangka bahwa ia sedang berada pada keadaan yang sebaik-baiknya. Betapa banyak masjid yang aku lihat yang Allah menghancurkan amalannya padahal dulu jemaahnya dzohirnya berada di atas sunnah karena disebabkan rusaknya batin mereka, dan sebab berlomba-lombanya mereka untuk dikatakan bahwa jemaah masjid adalah yang pertama kali berada di atas sunnah, hendaknya kalian berhati-hati…” (Dari ceramah beliau yang berjudul ikhlas).

Bahaya Cinta Ketenaran dan Popularitas

Berkata Abu Hazim Salamah bin Dinar “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan kejelekan-kejelekanmu.” (Berkata Syaikh Abdul Malik Romadhoni , “Diriwayatkan oleh Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa At-Tarikh (1/679), dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (3/240), dan Ibnu ‘Asakir dalam tarikh Dimasyq (22/68), dan sanadnya sohih”. Lihat Sittu Duror hal. 45).

Dalam riwayat yang lain yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman no 6500 beliau berkata, “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagiamana engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu, dan janganlah engkau kagum dengan amalan-amalanmu, sesungguhnya engkau tidak tahu apakah engkau termasuk orang yang celaka (masuk neraka) atau orang yang bahagia (masuk surga)”.

Berkata Syaikh Abdul Malik, “Namun mengapa kita tidak melaksanakan wasiat Abu Hazim ini?? Kenapa??, hal ini menunjukan bahwa keikhlasan belum sampai ke dalam hati kita sebagaimana yang dikehendaki Allah” (Dari ceramah beliau yang berjuduk ikhlas).

Oleh karena itu banyak para imam salaf yang benci ketenaran. Mereka senang kalau nama mereka tidak disebut-sebut oleh manusia. Mereka senang kalau tidak ada yang mengenal mereka. Hal ini demi untuk menjaga keihlasan mereka, dan karena mereka kawatir hati mereka terfitnah tatkala mendengar pujian manusia.

Berkata Hammad bin Zaid: “Saya pernah berjalan bersama Ayyub (As-Sikhtyani), maka diapun membawaku ke jalan-jalan cabang (selain jalan umum yang sering dilewati manusia-pen), saya heran kok dia bisa tahu jalan-jalan cabang tersebut ?! (ternyata dia melewati jalan-jalan kecil yang tidak dilewati orang banyak) karena takut manusia (mengenalnya dan) mengatakan, “Ini Ayyub” (Berkata Syaikh Abdul Malik Romadhoni: “Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad (7/249), dan Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa At-Tarikh (2/232), dan sanadnya shahih.” (Sittu Duror hal 46)).

Berkata Imam Ahmad: “Aku ingin tinggal di jalan-jalan di sela-sela gunung-gunung yang ada di Mekkah hingga aku tidak dikenal. Aku ditimpa musibah ketenaran”. (As-Siyar 11/210).

Imam Ahmad juga pernah berkata tatkala tahu bahwa manusia mendoakan beliau: “Aku mohon kepada Allah agar tidak menjadikan kita termasuk orang-orang yang riya”. (As-Siyar 11/211).

Pernah Imam Ahmad mengatakan kepada salah seorang muridnya (yang bernama Abu Bakar) tatkala sampai kepadanya kabar bahwa manusia memujinya: “Wahai Abu Bakar, jika seseorang mengetahui (aib-aib) dirinya maka tidak bermanfaat baginya pujian manusia”. (As-Siyar 11/211).

Berkata Hammad, “Pernah Ayyub membawaku ke jalan yang lebih jauh, maka akupun perkata padanya, “Jalan yang ini yang lebih dekat”, maka Ayyub menjawab: ”Saya menghindari majelis-majelis manusia (menghindari keramaian manusia-pen)”. Dan Ayyub jika memberi salam kepada manusia, mereka menjawab salamnya lebih dari kalau mereka menjawab salam selain Ayyub. Maka Ayyub berkata: ”Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa saya tidaklah menginginkan hal ini !, Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa saya tidaklah menginginkan hal ini!.” Berkata Syaikh Abdul Malik: ”Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d (7/248) dan Al-Fasawi (2/239), dan sanadnya shahih”. (Sittu Duror hal 47).

Berkata Abu Zur’ah Yahya bin Abi ‘Amr, “Ad-Dlohhak bin Qois keluar bersama manusia untuk sholat istisqo (sholat untuk minta hujan), namun hujan tak kunjung datang, dan mereka tidak melihat adanya awan. Maka beliau berkata: ”Dimana Yazid bin Al-Aswad?” (Dalam riwayat yang lain: Maka tidak seorangpun yang menjawabnya, kemudian dia berkata: ”Dimana Yazid bin Al-Aswad?, Aku tegaskan padanya jika dia mendengar perkataanku ini hendaknya dia berdiri”), maka berkata Yazid :”Saya di sini!”, berkata Ad-Dlohhak: ”Berdirilah!, mintalah kepada Allah agar menurunkan hujan bagi kami!”. Maka Yazid pun berdiri dan menundukan kepalanya diantara dua bahunya, dan menyingsingkan lengan banjunya lalu berdoa: ”Ya Allah, sesungguhnya para hambaMu memintaku untuk berdoa kepadaMu”. Lalu tidaklah dia berdoa kecuali tiga kali kecuali langsung turunlah hujan yang deras sekali, hingga hampir saja mereka tenggelam karenanya. Kemudian dia berkata: ”Ya Allah, sesungguhnya hal ini telah membuatku menjadi tersohor, maka istirahatkanlah aku dari ketenaran ini”, dan tidak berselang lama yaitu seminggu kemudian diapun meninggal.” (Lihat takhrij kisah ini secara terperinci dalam buku Sittu Duror karya Syaikh Abdul Malik Romadloni hal. 47).

Lihatlah wahai saudaraku, bagaimana Yazid Al-Aswad merasa tidak tentram dengan ketenarannya bahkan dia meminta kepada Allah agar mencabut nyawanya agar terhindar dari ketenarannya. Ketenaran di mata Yazid adalah sebuah penyakit yang berbahaya, yang dia harus menghindarinya walaupun dengan meninggalkan dunia ini. Allahu Akbar ! inilah akhlak salaf!

Bahkan Syaikh Abdul Qoyyum berkata, yang artinya, “Adapun orang-orang yang memerintahkan para pengikutnya atau rela para pengikutnya mencium tangannya lalu ia berkata bahwa ia adalah wali Allah maka ia adalah dajjal”. Namun banyak orang yang terbalik, mereka malah menjadikan ketenaran merupakan kenikmatan yang sungguh nikmat sehingga mereka berusaha untuk meraihnya dengan berbagai macam cara.

Riya itu Samar

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya:

“Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil), maka para shahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashghar? Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ar Riya’.” (HR. Ahmad dari shahabat Mahmud bin Labid no. 27742)

Sungguh benar sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya riya itu samar sehingga terkadang menimpa seseorang padahal ia menyangka bahwa ia telah melakukan yang sebaik-baiknya. Dikisahkan bahwasanya ada seseorang yang selalu sholat berjama’ah di shaf yang pertama, namun pada suatu hari ia terlambat sehingga sholat di saf yang kedua, ia pun merasa malu kepada jama’ah yang lain yang melihatnya sholat di shaf yang kedua. Maka tatkala itu ia sadar bahwasanya selama ini senangnya hatinya, tenangnya hatinya tatkala sholat di shaf yang pertama adalah karena pandangan manusia. (Tazkiyatun Nufus hal 15).

Berkata Abu ‘Abdillah Al-Anthoki, “Fudhail bin ‘Iyadh bertemu dengan Sufyan Ats-Tsauri lalu mereka berdua saling mengingat (Allah) maka luluhlah hati Sufyan atau ia menangis. Kemudian Sufyan berkata kepada Fudhail, “Wahai Abu ‘Ali sesungguhnya aku sangat berharap majelis (pertemuan) kita ini rahmat dan berkah bagi kita”, lalu Fudhail berkata kepadanya, “Namun aku, wahai Abu Abdillah, takut jangan sampai majelis kita ini adalah suatu mejelis yang mencelakakan kita “, Sufyan berkata, “Kenapa wahai Abu Ali?”, Fudhail berkata, “Bukankah engkau telah memilih perkataanmu yang terbaik lalu engkau menyampaikannya kepadaku, dan akupun telah memilih perkataanku yang terbaik lalu aku sampaikan kepadamu, berarti engkau telah berhias untuk aku dan aku pun telah berhias untukmu”, lalu Sufyan pun menangis dengan lebih keras daripada tangisannya yang pertama dan berkata, “Engkau telah menghidupkan aku semoga Allah menghidupkanmu”. (Tarikh Ad-Dimasyq 48/404).

Perhatikanlah wahai saudaraku, sesungguhnya hanyalah orang-orang yang beruntung yang memperhatikan gerak-gerik hatinya, yang selalu memperhatikan niatnya. Terlalu banyak orang yang lalai dari hal ini kecuali yang diberi taufik oleh Allah. Orang-orang yang lalai akan memandang kebaikan-kebaikan mereka pada hari kiamat menjadi kejelekan-kejelekan, dan mereka itulah yang dimaksudkan oleh Allah dalam firman-Nya, yang artinya:

Dan (jelaslah) bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolok-olokkannya.” (QS. Az Zumar: 48).

Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfi: 104).

Pentingnya Ikhlash bagi Penuntut Ilmu

Berkata Al-Imam An-Nawawiy setelah membicarakan tentang keutamaan ilmu dan kedudukan ulama:

Ketahuilah bahwasanya apa-apa yang telah kami sebutkan dari keutamaan menuntut ilmu, hanyalah akan diperoleh bagi orang yang mencarinya dalam rangka mengharapkan Wajah Allah Ta’ala, bukan dalam rangka mencari dunia. Dan barangsiapa dalam menuntut ilmu dia mencari tujuan duniawi seperti harta, kepemimpinan, kedudukan, kemegahan, ketenaran, menarik perhatian manusia kepadanya atau ingin mendebat orang lain, atau yang sejenisnya maka ini semuanya tercela.” (Al-Majmuu’ 1/23)

Apabila seorang penuntut ilmu mendapatkan dalam dirinya kecenderungan kepada riya` dan senang untuk berbangga-bangga dengan ilmunya, maka wajib baginya untuk menyibukkan diri dengan memperbaiki niat, bersungguh-sungguh melatih jiwanya agar tetap di atas keikhlashan, menghilangkan was-was syaithan, berlindung diri dari kejahatan dan kejelekannya sampai niatnya kembali menjadi bersih dari berbagai kotoran riya dan yang lainnya, dan tertutuplah pintu-pintu masuk syaithan yang biasa menyusup dari sela-sela jiwa manusia.

Al-Khathib Al-Baghdadiy meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnus Simak bahwasanya dia berkata: Aku mendengar Sufyan Ats-Tsauriy berkata:

Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih berat atas diriku daripada (memperbaiki) niatku, karena niat itu senantiasa berubah-ubah pada diriku.” (Al-Jaami’ li Akhlaaqir Raawiy wa Aadaabis Saami’ 1/317)

Al-Khathib juga meriwayatkan dari Bisyr Ibnul Harits bahwasanya beliau ketika berbicara lalu menyebutkan sanad hadits, maka beliau berkata:

Astaghfirullaah, sesungguhnya ketika menyebutkan sanad muncul perasaan bangga dan sombong dalam hatiku.” (Ibid. 1/338)

Dia takut masuknya perasaan sombong dan bangga ke dalam hatinya, ketika dia menyebutkan sanad dari para perawi dan guru-gurunya yang meriwayatkan dari mereka, lalu hal ini menjadi sebab munculnya riya`, maka diapun mengawasi bisikan-bisikan jiwanya lalu meminta ampun kepada Rabbnya.

Al-Khathib Al-Baghdadiy meriwayatkan juga dari ‘Ubaidullah bin Abi Ja’far bahwasanya beliau berkata:

Apabila seseorang ketika sedang berbicara di suatu majelis lalu pembicaraannya tersebut menjadikan dia ta’ajjub (kagum) maka hendaklah dia diam, dan sebaliknya apabila dia diam lalu diamnya tersebut menjadikan dia ta’ajjub maka hendaklah berbicara.” (Ibid. 1/338)

Beramal Terus Sambil Memperbaiki Niat

Sangatlah pantas bagi kita untuk memperhatikan permasalahan ini yaitu terhadap pintu-pintu masuknya syaithan yang selalu berusaha menggoda manusia, yang wajib bagi para penuntut ilmu mewaspadainya.

Yang dimaksud pintu syaithan di sini adalah godaan dan tipuannya syaithan yang menjadikan permasalahan riya` dan rasa takut darinya sebagai senjata untuk menghalangi seorang penuntut ilmu dari tujuannya (sehingga tidak lagi menuntut ilmu karena takut riya`), dan menghalangi seorang yang alim dari majelis ilmu (sehingga tidak lagi mengajarkan ilmunya karena takut riya`), menghalangi seorang da’i dan pemberi nasehat dari pelajaran-pelajarannya, dengan alasan bahwasanya manusia akan kagum dengan pembicaraannya dan hal ini mengantarkan kepada riya` atau karena semata-mata didapati dalam dirinya ada kecenderungan kepada bisikan-bisikan riya` dan senang dengan kagumnya manusia dan pujian mereka kepadanya.

Sungguh para ulama telah membedakan antara riya` yang merupakan tujuan dan pendorong atas suatu amalan dengan keadaan seorang muslim yang telah menyempurnakan amalannya dengan ikhlash kemudian dia mendapati sebagian kesenangan pada dirinya dari pujian manusia atasnya setelah dia menyelesaikan amalannya tersebut, maka hal ini tidaklah mengurangi hakikat keikhlashannya insya Allah. (Mukhtashar Minhaajil Qaashidiin hal.221)

Al-Imam Muslim telah meriwayatkan dalam Shahihnya dari Abu Dzarr, dia berkata: Dikatakan kepada Rasulullah: “Apakah pendapat engkau terhadap seseorang yang melakukan suatu amalan kebaikan dan manusia memujinya?” Maka beliau menjawab: “Itulah balasan kebaikan yang disegerakan sebagai kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.”

Sebagaimana para ulama juga telah memberitahukan bahwasanya selayaknya bagi seorang penuntut ilmu agar jangan meninggalkan jalan menuju ilmu apabila dia mendapatkan dalam dirinya ada sesuatu dari riya`, akan tetapi yang harus dia lakukan adalah menyibukkan diri dengan memperbaiki niatnya dengan tetap meneruskan menuntut ilmu dan menyebarkan ilmu serta mengajarkannya kepada orang lain.

Berkata Al-Imam An-Nawawiy: “Tidak Selayaknya bagi seorang yang berilmu untuk tidak mengajarkan ilmunya kepada seseorang dengan alasan karena niat orang yang belajar tersebut belum benar, karena sesungguhnya dia masih diharapkan agar baik niatnya. Dan terkadang dirasakan berat oleh kebanyakan para pemula dari kalangan para penuntut ilmu masalah perbaikan niat karena lemahnya jiwa-jiwa mereka dan sedikitnya kesenangan mereka terhadap kewajiban memperbaiki niat.

Karena menghalangi atau mencegah dari mengajari mereka akan mengantarkan kepada terluputnya ilmu yang banyak, bersamaan dengan itu masih diharapkan perbaikannya dengan adanya barakah ilmu apabila dia senang ilmu. Dan sungguh para ulama salaf mengatakan: “Kami dulunya menuntut ilmu bukan karena Allah, maka ilmu itupun enggan kecuali agar dicari dalam rangka karena Allah semata.” Artinya akibat terakhirnya adalah jadilah menuntut ilmunya itu karena Allah semata.” (Al-Majmuu’ 1/30)

Hal itu juga sebagaimana diterangkan oleh Al-Imam Ibnul Jauziy, di mana beliau mengatakan:
“Sungguh Iblis telah memberikan tipu dayanya kepada seorang pemberi nasehat yang ikhlash, maka Iblispun berkata kepadanya: “Orang sepertimu tidaklah memberi nasehat dan akan tetapi kamu hanya pura-pura memberi nasehat.” Akhirnya diapun diam dan berhenti dari memberi nasehat. Itulah di antara makar Iblis, karena dia menginginkan menghalangi perbuatan yang baik…. Iblispun juga berkata: “Sesungguhnya kamu ingin bernikmat-nikmat dengan apa yang kamu sampaikan dan kamu akan mendapatkan kesenangan karena hal itu, dan kadang-kadang akan muncul perasaan riya` pada ucapanmu, dan menyendiri itu lebih selamat.” Maksud dari perkataan ini adalah menghalangi dari berbagai kebaikan”. (Talbiisu Ibliis hal.125)

Luruskan Niat dalam Menuntut Ilmu!

Mari kita akhiri dengan wasiat Abu Hamid (beliau di akhir hidupnya bertaubat dan kembali ke manhaj salaf, yang sebelumnya bermanhaj shufi) di mana beliau mengingatkan para penuntut ilmu akan wajibnya mengawasi dan memperhatikan jiwanya dan agar selalu bertanya kepadanya apa pendorong dalam mencari ilmu dan kesabarannya dalam menghadapi kesulitan-kesulitan menuntut ilmu:

Berapa malam kamu bangun untuk mengulang ilmu dan mentelaah kitab-kitab dan kamu mengharamkan dirimu untuk tidur, aku tidak tahu apa yang mendorongmu melakukan semuanya itu? Apabila niatmu mencari bagian dari dunia, perhiasannya dan kedudukan-kedudukan di dunia, serta ingin berbangga-bangga dengan teman-teman setingkatmu, maka kecelakaanlah bagimu kemudian kecelakaanlah bagimu. Dan apabila tujuanmu dalam mencari ilmu adalah dalam rangka menghidupkan syari’atnya Nabi dan mendidik akhlakmu serta mengikis habis nafsu yang cenderung kepada kejelekan, maka kebahagiaanlah bagimu kemudian kebahagiaanlah bagimu.” (Ayyuhal Walad hal.105-106)

Wallaahu A’lam Bish Showwab

Semoga shalawat dan salam senantiasa Allah limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya radiyallahu anhum ajmain dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga akhir zaman.

Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran itu sebagai kebenaran dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya, serta tunjukkanlah kepada kami kebatilan itu sebagai sebuah kebatilan, dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya.

Maha Suci Engkau Ya Allah, dan dengan memuji-Mu, saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau, saya memohon ampun dan aku bertaubat kepada-Mu.

Melbourne, 05 Jumadil Akhir 1430 H
Yang senantiasa mengharapkan ampunan, rahmat dan ridho-Nya,
Abul Fudhail Dzulkifli bin Iwan Al-Ghorontaliy

Sumber:

1. Yayasan Forum Dakwah Ahlussunnah Wal Jama’ah
Edisi ke-24 Tahun ke-3 / 13 Mei 2005 M / 04 Rabi’uts Tsani 1426 H
Judul Artikel: Ikhlash, Betapa Sulitnya…
url: http://fdawj.atspace.org/awwb/th3/24.htm

2. Buletin Al Ilmu
Rabu, 16-Januari-2008
Judul Artikel: Bahaya Riya dan Pengobatannya

3. Ustadz Firanda
Judul Artikel: Ikhlas dan Bahaya Riya
url: http://muslim.or.id/?p=190 dan http://alatsari.wordpress.com/2009/01/27/ikhlas-dan-bahaya-riya/

4. Al Wajiz
Judul artikel: Niat (adalah) Syarat Bagi Seluruh Amal
url:http://alwajiz.wordpress.com/2007/02/28/niat-adalah-syarat-bagi-seluruh-amal/#more-48

Feb
10

Oleh Abul Fudhåil

Seorang muslim yang mengikrarkan syahadat berarti telah yakin bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu dia harus mengetahui kewajibannya terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai konsekuensi persaksian bahwa beliau adalah utusan Allah.

Kewajiban seorang muslim terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di antaranya adalah:

1. Beriman kepada Beliau

– Membenarkan dan mengimani kenabian dan kerasulan beliau dengan mengikuti apa-apa yang beliau shållallåhu ‘alaihi wa sallam bawa

Iman kepada para rasul merupakan salah satu rukun iman yang harus diyakini oleh setiap muslim. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah salah seorang di antara para rasul, Allah subhanahu wata’ala berfirman, yang artinya:

“Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (al-Qur’an) yang telah Kami turunkan, Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

(QS. 64:8)

Allåh subhanahu wa ta’ala berfirman, yang artinya:

“Katakanlah, ‘Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada sesembahan (yang berhak disembah dengan benar) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya, nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimatNya (kitab-kitabNya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk.”

(Al-A’raf: 158).

Beliau shållallåhu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:

“Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, tidak seorang pun dari umat (manusia) ini yang mendengar tentang aku, seorang Yahudi maupun Nasrani, kemudian ia mati dan tidak beriman kepada ajaran yang aku bawa, melainkan ia adalah termasuk penghuni neraka.”

(HR. Muslim).

– Meyakini dan mengimani bahwa tidak ada nabi lagi setelah beliau shållallåhu ‘alaihi wa sallam

Bentuk keimanan lainnya yaitu kita mengimani bahwa tidak ada lagi nabi dan rasul sesudahnya, kerasulan dan kenabian telah ditutup oleh Allah dengan diangkat dari diutusnya Muhammad bin ‘Abdillah shållallåhu ‘alaihi wa sallam sebagai rasul. Dialah nabi akhir zaman yang tiada nabi sesudahnya, kalaupun sesudahnya ada yang mengaku-ngaku sebagai nabi atau råsul seperti yang dilakukan beberapa orang, maka mereka semua adalah kadzdzab (pembual besar).

Allåh subhanahu wa ta’ala berfirman, yang artinya:

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Ahzab: 40).

Imam hafizh Ibnu Katsir berkata,

“Ayat ini merupakan nash bahwa tidak ada nabi setelahnya, jika tidak ada nabi setelahnya berarti tidak ada rasul setelahnya dan ia lebih pantas dan lebih layak untuk tidak ada karena risalah lebih khusus daripada nubuwah. Semua rasul adalah nabi bukan sebaliknya.”

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, yang artinya:

“… Dan sesungguhnya akan muncul pada ummatku pendusta yang jumlahnya tiga puluh orang, mereka semua mengaku sebagai Nabi, sedangkan aku adalah penutup para Nabi dan tidak ada Nabi sepeninggalku.”

[HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dengan sanad yang shahih menurut syarat Muslim]

– Membenarkan risalah beliau dan meyakini kesempurnaan risalah tersebut

Termasuk iman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah membenarkan dengan tanpa keraguan bahwa risalah dan kenabiannya adalah haq dari Allah subhanahu wata’ala, dan mengamalkan segala tuntutannya. Membenarkan semua ajaran yang beliau bawa, dan yakin bahwa semua berita dari Allah yang beliau sampaikan adalah benar. Allah subhanahu wata’ala berfirman, yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya.”

(QS. an-Nisaa’:136)

Kita pun mengimani bahwa seluruh risalah yang diwahyukan kepada beliau telah beliau sampaikan dan telah sempurna, sehingga kita tidak memerlukan lagi tambahan-tambahan atau bahkan mengurangi syari’at yang ada didalamnya.

Dalam hajjatul wada’ Råsulullåh shållallåhu ‘alahi wa sallam berkhutbah kepada para shåhabatnya:

Nabi shållallåhu ‘alahi wa sallam bersabda, yang artinya,

“Bukankah aku telah menyampaikan (seluruh risalahku)?” Mereka menjawab, “Ya.” Nabi mengulang, “Bukankah aku telah menyampaikan (seluruh risalahku)?” Mereka menjawab, “Ya.” Nabi mengulang, “Bukankah aku telah menyampaikan (seluruh risalahku)?” Mereka menjawab, “Ya.” Nabi bersabda, yang artinya, “Ya Allah saksikanlah.” Nabi menunjuk dengan jarinya ke langit dan mengarahkannya kepada hadirin.”

(HR. Muslim)

Maka turunlah ayat, yang artinya:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”

(QS. Al-Maa-idah:3)

Lihat pula perkataan para shåhabat dalam hal ini,

Shahabat Abu Dzar Al Ghifari radhiallahu ‘anhu berkata:

“Rasulullah shållallåhu ‘alahi wa sallam telah meninggalkan kami dalam keadaan tidak ada seekor burung yang mengepakkan sayapnya di udara, melainkan beliau telah sebutkan ilmu tentangnya. Lalu beliau berkata: “Rasulullah shållallåhu ‘alahi wa sallam telah bersabda, yang artinya:

“Tidak ada sesuatu pun yang dapat mendekatkan kepada jannah (surga) dan menjauhkan dari api neraka, melainkan telah dijelaskan kepada kalian.”

(Shåhih, HR. Ath Thabarani dalam Mu’jamul Kabir 1647)

Salman al-farisi radhiallahu ‘anhu berkata:

“Sungguh shahabat kalian (yaitu nabi Muhammad shållallåhu ‘alahi wa sallam) telah mengajarkan segala sesuatu kepada kalian, hingga adab buang hajat pun beliau ajarkan.”

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata:

“Ikutilah (apa yang diajarkan oleh Rasulullah shållallåhu ‘alahi wa sallam), jangan mengamalkan amalan-amalan baru (yang tidak ada contohnya dari Rasulullah shållallåhu ‘alaihi wa sallam), sungguh (petunjuk/sunnah beliau shållallåhu ‘alahi wa sallam) telah cukup bagi kalian.”

Maka jika Allåh, Råsul-Nya, dan para shåhabat Råsul-Nya (yang merupakan generasi terbaik umat ini) telah mempersaksikan kesempurnaan Islam, maka kita pun harus demikian adanya.

– Mengimani keumuman risalah beliau

Artinya, beriman kepada Muhammad shållallåhu ‘alahi wa sallam sebagai rasul belum sah sehingga yang bersangkutan meyakini bahwa agama yang dibawa olehnya tidak hanya diperuntukkan kepada wilayah atau bangsa atau suku atau ras tertentu saja akan tetapi ia adalah risalah alamiyah yang mecakup seluruh manusia di bumi tanpa tersekat oleh wilayah, bangsa atau warna. Jika ada yang berkata, risalah atau syari’at Muhammad shållallåhu ‘alahi wa sallam hanya untuk orang-orang Arab saja –misalnya- maka pengakuan keislamannya kepadanya gugur.

Sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya,

“Katakanlah, ‘Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.”

(Al-A’raf: 158).

Allåh subhanahu wa ta’ala berfirman, yang artinya,

“Mahasuci Allah yang telah menurunkan al-Furqaan (al-Qur`an) kepada hambaNya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.”

(Al-Furqan: 1)

Allåh subhanahu wa ta’ala berfirman, yang artinya,

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.”

(Saba`: 28).

2. Mencintai Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam

Merupakan hak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atas ummatnya adalah mencintainya, karena iman tidak ada artinya jika tidak dibarengi dengan kecintaan kepada beliau. Allah subhanahu wata’ala memberitahukan bahwa lebih mencintai selian Allah, Rasulullah dan jihad di jalan Allah merupakan penyebab kemurkaan-Nya.

Sebagaimana dalam firman-Nya, yang artinya:

“Katakanlah: “jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

(At-Taubah: 24)

Beliau shållallåhu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dia cintai daripada bapaknya, anaknya dan seluruh manusia.”

(HR. al-Bukhari)

Tatkala mendengar ini, Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Sungguh engkau lebih aku cintai dibanding segala sesuatu kecuali diriku.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak demikian, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sehingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Maka Umar berkata, “Demi Allah sesungguhnya engkau sekarang lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ” Sekarang hai Umar, (telah sempurna imanmu).”

Imam Al Qadhi ‘Iyadh Al Yahshubi berkata,

“Ketahuilah bahwa barangsiapa yang mencintai sesuatu, maka dia akan mengutamakannya dan berusaha meneladaninya. Kalau tidak demikian, maka berarti dia tidak dianggap benar dalam kecintaanya dan hanya mengaku-aku (tanpa bukti nyata). Maka orang yang benar dalam (pengakuan) mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah jika terlihat tanda (bukti) kecintaan tersebut pada dirinya.”

“Tanda (bukti) cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang utama adalah (dengan) meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengamalkan sunnahnya, mengikuti semua ucapan dan perbuatannya, melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangannya, serta menghiasi diri dengan adab-adab (etika) yang beliau (contohkan), dalam keadaan susah maupun senang dan lapang maupun sempit.”

(Asy Syifa bi Ta’riifi Huquuqil Mushthafa, 2/24)

3. Taat terhadap Beliau

Taat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan salah satu kewajiban seorang muslim, sebagaimana disebutkan di dalam al-Qur’an, artinya, yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atlah kepada Allah dan ta’atlah kepada rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu”

(QS. 47:33)

Allåh subhanahau wa ta’ala berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling daripada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintahnya).”

(QS. 8:20)

Allåh subhanahau wa ta’ala berfirman,

“Apa saja yang dibawa oleh rasul maka ambillah (laksanakan) dan apa saja yang dilarangnya kepada kalian maka tinggalkanlah.”

(QS. 59: 7)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga telah bersabda, bahwa taat kepada beliau merupakan sebab seseorang masuk surga. Orang yang taat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hakikatnya taat kepada Allah.

Seiring dengan taat kepada beliau, kita pun harus menghindarkan diri kita dari mendurhakai beliau, dan salah satu bentuk kedurhakaan terhadap beliau yaitu senantiasa menyelisihi atau bahkan menentang perintah dan larangan beliau.

Råsulullåh shållallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:

“Dan sudah dijadikan kehinaan dan kerendahan atas mereka yang menyelisihiku.”

(HR. Bukhari di dalam bab “Maa qiila fi ar-rimaah“)

Begitu pula dalam sabda beliau yang lain, yang artinya:

“Setiap umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan.” Mereka bertanya: “siapa yang enggan wahai Rasulullah?” Beliau berkata: “Siapa yang taat kepadaku, akan masuk surga, dan siapa yang tidak taat kepadaku, akan masuk neraka.”

(HR. Bukhari 7280)

Dan salah satu bentuk ketidak-taatan, penyelisihan dan penentangan terhadap beliau yaitu melakukan bid’ah, yaitu, “Suatu cara baru dalam beragama yang menyerupai syari’at dan menanggapnya bagian dari syari’at, yang dimana tujuan dibuatnya adalah untuk beribadah kepada Allah, yang sebelumnya belum pernah sama sekali ada petunjuk dan tuntunan dari Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam”. Perbuatan seperti ini, adalah sesuatu yang tertolak dalam agama, seburuk-buruk perkara dan suatu kesesatan yang nyata.

Hal ini dibuktikan dengan sabda beliau, yang artinya:

“Barang siapa yang membuat perkara baru dalam urusan agama ini, yang bukan bagian dari agama ini, maka hal itu tertolak”. dalam riwayat lain, “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka tertolak.” (Riwayat Bukhori dan Muslim)

Begitu pula dalam sabda beliau yang lain, yang artinya:

“Sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk, adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang tidak mempunyai landasan syar’i, karena setiap perkara tersebut adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.”

(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah)

Dan juga sabda beliau yang lain, yang artinya:

“Barang siapa yang membuat cara ibadah baru (bid’ah), atau membantu orang yang menjalankan Bid’ah, maka dia mendapat laknat dari Allah Subhanahu wa ta’ala, para malaikat dan semua manusia.”

(HR Bukhari 3/1160, Ibnu Hibban 9/32, Abu Dawud 2/216)

4.Ittiba’ (mengikuti) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

Allah subhanahu wa ta’ala memberitahukan bahwa ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupa kan bukti cinta seorang muslim kepada Allah subhanahu wata’ala. Dia berfirman, artinya,

Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

(QS. 3:31)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:

“Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya seandainya Musa hidup maka tidak boleh baginya kecuali mengikutiku”

[Dikeluarkan oleh Abdur Razzaq dalamMushannafnya 6/Fl 3, lbnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya 9/47, Ahmad dalam Musnadnya 3/387, dan lbnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Ilmi 2/805, Syaikh Al-Albani berkata dalam Irwa’ 6/34, “Hasan”]

Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata,

“Jika Musa Kalimullah tidak boleh ittiba’ kecuali kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaimana dengan yang lainnya? Hadits ini merupakan dalil yang qath‘i atas wajibnya mengesakan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam hal ittiba’, dan ini merupakan konsekuensi syahadat ‘anna Muhammadan rasulullah”, karena itulah Alloh sebutkan dalam ayat di atas (Ali lmran : 31) bahwa ittiba’ kepada Rasulullah bukan kepada yang lainnya adalah dalil kecintaan Alloh kepadanya”

[Muqaddimah Bidayatus Sul fi Tafdhili Rasul hal.5-6]

Maka dengan hal ini pula adalah haram, meninggalkan apa-apa yang beliau syari’atkan dan tuntunkan hanya karena beralasan ada pendapat-pendapat lain, baik itu pendapat dari kalangan shåhabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in terlebih lagi orang-orang setelah mereka. Dalam hal ini, imam madzhab (imam yang empat) bersepakat (ijma’) bahwa tidak boleh ada pendapat seorang pun yang didahulukan jikalau telah ada sunnah dari Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam.

Al-Imam Abu Hanifah berkata,

“Tidak halal atas seorangpun mengambil perkataan kami selama dia tidak tahu dari mana kami mengambilnya” Dalam riwayat lain beliau berkata, “Orang yang tidak tahu dalilku, haram atasnya berfatwa dengan perkataanku

[Dinukil oleh Ibnu Abidin dalam Hasyiyahnya atas Bahru Raiq 6/293 dan Sya’ rany dalam Al-Mizan 1/55]

Al-Imam Malik berkata :

“Sesungguhnya aku adalah manusia yang bisa benar dan keliru. Lihatlah pendapatku, setiap yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah maka ambillah, dan setiap yang tidak sesual dengan Kitab dan Sunnah maka tinggalkanlah

[Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Al-Jami’ 2/32]

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata,

“Jika kalian menjumpai sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam , ittiba’lah kepadanya, janganlah kalian menoleh kepada perkataan siapapun

[Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ 9/107 dengan sanad yang shahih]

Al-Imam Ahmad berkata,

“Janganlah engkau taqlid dalam agamamu kepada seorangpun dari mereka, apa yang datang dari Nabi dan para sahabatnya ambillah” Beliau juga berkata, “Ittiba’ adalah jika seseorang mengikuti apa yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya”

[Masa’iI Al-Imam Ahmad oleh Abu Dawud hal.276- 277]

5.Menjadikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai imam dan hakim dalam setiap perkara

Allåh subhanahu wa ta’ala berfirman, yang artinya:

“Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikanmu sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”

(an-Nisa’: 65)

Al-Hafizh Imam Ibnu Katsir berkata,

“Allah Taala bersumpah dengan diriNya yang Maha Mulia lagi Maha Suci bahwa seseorang belum beriman sehingga dia menjadikan rasul sebagai hakim dalam segala perkara, apa yang diputuskan olehnya adalah benar wajib tunduk kepadanya lahir batin”

“Oleh karena itu Allah berfirman, ‘Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.’ yakni jika mereka menjadikanmu sebagai hakim, mereka menaatimu dalam batin mereka maka mereka tidak merasa keberatan dari apa yang kamu putuskan, mereka tunduk kepadanya lahir dan batin.

“Maka mereka berserah diri seutuhnya tanpa penolakan penentangan dan pembantahan sebagaimana hadir dalam hadits, “Demi dzat yang jiwaku berada di tanganNya, salah seorang dari kalian tidak beriman sehingga keinginannya mengikuti apa yang aku bawa.”

Dalam firman-Nya yang lain juga disebutkan, yang artinya:

“Tidaklah layak bagi seorang yang beriman, lelaki dan perempuan, apabila Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara ternyata masih ada bagi mereka pilihan yang lain dalam urusan mereka. Barang siapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat dengan kesesatan yang amat nyata.”

(QS. al-Ahzab: 36)

6. Meneladeni Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

Allah subhanahu wata’ala memerintahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk meneladani para nabi dan rasul sebelum beliau. Dan kita diperintahkan untuk meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagimana firman Allah subhanahu wata’ala, yang artinya:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

(QS. 33:21)

Syaikh ‘Abdurråhman As-Sa’di berkata

“Ayat yang mulia ini menunjukkan kemuliaan dan keutamaan besar mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Allah Ta’ala sendiri yang menamakan semua perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai “teladan yang baik”, yang ini menunjukkan bahwa orang yang meneladani sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti dia telah menempuh ash-shirathal mustaqim (jalan yang lurus) yang akan membawanya mendapatkan kemuliaan dan rahmat Allah Ta’ala.”

(Lihat keterangan Syaikh ‘Abdurrahman As Sa’di ketika menafsirkan ayat di atas, hal. 481)

Ketika menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir berkata,

“Ayat yang mulia ini merupakan landasan yang agung dalam meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam semua ucapan, perbuatan dan keadaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

(Tafsir Ibnu Katsir, 3/626)

7. Memuliakan dan Menghormati Beliau

Wajib bagi setiap muslim untuk memuliakan dan menghormati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sesuai kedudukannya, dengan catatan tidak mengangkatnya hingga sampai derajat ketuhanan (berlebih-lebihan dalam memuliakan beliau) dan juga tidak meremehkan ataubahkan sampai menghina beliau.

Golongan al-ifrath adalah mereka yang melampaui batas dalam memuji dan mengangkat Rasulullah sehingga menyamakan derajatnya dengan Allah atau memberikan sifat-sifat yang sesungguhnya hanya layak bagi Allah semata atau mendudukkannya seperti kedudukan Allah.

Mereka yang berlebih-lebihan dalam memuji Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyerupai Nashrani ketika menuhankan nabi Isa ‘alaihis sallam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun memperingatkan umatnya agar jangan seperti mereka.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Janganlah kalian memuji aku secara berlebihan sebagaimana Nashrani memuji Isa bin Maryam, aku hanyalah seorang hamba maka katakanlah: “Hamba Allah dan Rasul-Nya”.”

(HR. Bukhari Muslim)

Mengagungkan beliau adalah mengagungkan segala sesuatu yang terkait dengan beliau, seperti nama beliau, hadits, sunnah, syari’at, keluarga dan juga para sahabat beliau. Termasuk memuliakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah tidak lancang terhadap beliau dan tidak mengeraskan suara di hadapan beliau.

Allah subhanahu wata’ala berfirman, yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata padanya dengan suara keras sebagai mana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.”

(QS. al-Hujurat:1-2)

Di dalam ayat di atas Allah subhanahu wata’ala melarang kita mengeraskan suara di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan harus merendahkan suara dalam berbicara, dengan penuh adab, lembut, hormat dan pengagungan. Orang yang tidak perhatian terhadap hal ini dikhawatir kan amalnya akan gugur tanpa dia sadari. Ini dikarenakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah lain daripada yang lain, tidak seperti lazimnya manusia.

Para ulama mengatakan bahwa mengeraskan suara di sisi kubur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dibenci, sebagaimana hal itu dilarang ketika beliau masih hidup, sebab beliau itu terhormat ketika hidup dan mati.

Berhubungan dalam hal ini, ketika kita dihadapkan dengan hadits-hadits Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam, maka adab kita terhadap hadits tersebut adalah memperhatikan dengan seksama, mendengarkan baik-baik, dan memahaminya sesuai dengan pemahaman yang benar. Tidak diperbolehkan bersuara keras (membuat suara gaduh) ketika kita disampaikan hadits-hadits Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam, atau bahkan sampai menentang dan melecehkannya, wal iyya ‘udzu billah.

Al-Imam Ibnul Qåyyum dalam menafsirkan ayat diatas (yakni QS. Al-Hujurat 1-2), berkata:

“Maka Allah Subhannahu wa Ta’ala memperingatkan kaum mukminin tentang gugurnya amalan mereka karena mengeraskan suara kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam sebagaimana mereka mengeraskan suara kepada temannya. Hal ini tidak menunjukkan kemurtadan, akan tetapi merupakan kemaksiatan yang dapat menggugurkan amalan, sedangkan pelakunya tidak merasakan. Maka bagaimana lagi terhadap orang yang mengesampingkan perkataan Rasul Shalallaahu alaihi wasalam, petunjuk serta jalanya, lalu mengutamakan perkataan, petunjuk dan jalan selain beliau? Bukankah hal ini sungguh telah menggugurkan amalannya, sedang mereka tidak merasakan?”

Mari kita lihat kisah berikut:

Dari Khordzad bin al-’Abid dia berkata, ?”Abu Muawiyah adh-Dharir meriwayatkan di sisi Harun ar-Rasyid tentang hadits, “Adam beradu argumen dengan Musa.” Maka tiba-tiba berkata paman Harun ar-Råsyid, “Di mana Adam bertemu dengannya (Musa)?¨. Maka Harun ar-Rasyid pun marah dan berkata, ?”Untuk perkataan (yang mengada-ada) adalah pedang, dia seorang zindiq yang mencerca hadits.?¨ Maka Abu Muawiyah terus berusaha menenangkan beliau lalu berkata, ?”Sabar wahai Amirul Mu’minin, bahwa dia belum paham, sampai akhirnya beliau tenang.?¨

Dan masih banyak lagi kisah-kisah serupa, yang memperlihatkan bagaimana kaum salaf dalam mengagungkan sunnah-sunnah Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam. Dan Inilah adab yang harus kita jaga dan pertahankan sebagai bentuk menghormati dan memuliakan beliau shållallåhu ‘alaihi wa sallam.

Tidak diperbolehkan juga merendahkan beliau, seperti yang dilakukan oleh golongan at-tafrith (meremehkan). Mereka menjatuhkan martabat beliau dan merendahkannya dengan menolak sunnah-sunnahnya secara total seperti yang terjadi pada para pengingkar sunnah yang dikenal dengan istilah aliran ingkarus sunnah atau qur’aniyyun. Mereka ini dikafirkan oleh para ulama dan dihukumi sebagai murtad (keluar dari agama Islam) dikarenakan kalimat syahadat yang diyakininya hanya sebatas “laa ilaaha illallåh” sehingga membatalkan persaksiannya terhadap kalimat “muhammadur råsulullåh” dengan pengingkarannya terhadap sunnah-sunnah nabinya.

Para pengingkar sunnah itu diancam oleh Allah dengan ancaman yang berat. Allah ancam mereka dengan Jahannam dan kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ta’ala berfirman, yang artinya:

“…Dan barangsiapa yang bermaksiat kepa-da Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguh-nya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.”

(al-Jin: 23)

Allah ancam mereka dengan kesesatan di dunia dan adzab neraka di akhirat, Allah ta’ala berfirman, yang artinya:

“…Dan barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”

(an-Nisa’: 115)

Serta diancam dengan fitnah kesesatan dan kekufuran. Sebagaimana firman Allah:

Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.

(an-Nuur: 63)

Hal-hal diatas juga berlaku pada ahlul bid’ah yang senantiasa menyelisihi sunnah-sunnah beliau dan menggantinya dengan syari’at-syari’at yang tidak pernah beliau ajarkan dan tuntunkan.

8. Nasihat untuk Beliau

Nasihat secara bahasa artinya menghendaki kebaikan, sehingga ketika seorang muslim menasehati saudaranya berarti dia ingin agar saudaranya itu menjadi baik.

Adapun nasehat untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau masih hidup adalah dengan mengerahkan segala upaya untuk taat kepada beliau, menolong dan membantu beliau, membelanjakan harta jika beliau memerintahkan dan berlomba-lomba mencintai beliau. Dan setelah beliau meninggal dengan cara berusaha mempelajari sunnah, akhlaq dan adab beliau. Mengagungkan perintah-perintah beliau dan konsisten dalam menjalankannya. Membenci dan marah kepada orang-orang yang menyelisihi sunnah beliau, mencintai orang yang ada ikatan kekerabatan, perbesanan, pertalian hijrah, dan persahabatan dengan beliau. Berwala’ (setia) kepada beliau dan memusuhi orang yang memusuhi beliau.

9.Mencintai Ahli Bait dan Shahabat Beliau

Mencintai Ahli Bait dan Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan bagian dari cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan merupakan cinta yang wajib. Maka barang siapa yang membenci ahli bait atau shahabat beliau yang telah diridhai Allah subhanahu wata’ala maka berarti telah membenci Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, karena cinta kepada beliau berkaitan erat dengan cinta kepada mereka.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda mengenai paman beliau al-Abbas radhiyallahu anhu yang merupakan salah seorang ahli bait beliau, “Barang siapa menyakiti pamanku, maka dia telah menyakitiku.” Dan tentang Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu anha beliau bersabda, “Janganlah kalian menyakitiku dalam hal Aisyah.” Tentang para shahabat, maka beliau bersabda, “Janganlah kalian mencaci-maki shahabatku, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka tidak akan sampai kepada (derajat) mereka, bahkan meski hanya setengahnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

10. Bershalawat kepada Beliau

Allah subhanahu wata’alamemerintahkan orang- orang mukmin untuk bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam firman-Nya, yang artinya:

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

(QS. 33:56)

Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:

“Orang yang bakhil/kikir adalah orang yang ketika aku(namaku) disebut, lalu ia tidak bershalawat kepadaku“

(HR. At-Tirmidzi no. 3546, Ahmad no. 1736, dan selainnya; shahih)

Bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan kewajiban setiap mukmin, yaitu dengan mengucapkan shalawat dan salam sekaligus, Tidak shalawat (shallallahu ‘alaihi) saja atau hanya salam saja (‘alaihis salam), namun shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Salah satu adab dalam bershålawat kepada beliau yaitu tidak bakhil, yakni tidak mempersingkan shålawat kepada beliau dengan singkatan-singkatan seperti “s.a.w” dan lain sebagainya.

Al-Imam An-Nawawi Råhimahullåh berkata, “Hendaknya (orang yang) menuliskan kata-kata shallallahu ‘alaihi wa sallam, (menuliskannya) secara sempurna ketika menyebutkan nama Nabi (Muhammad), tidak dengan menyingkatnya, dan tidak pula mencukupkan diri pada salah satunya (salam atau shalawat saja)”

Dan adab lainnya yaitu, bershålawat kepada beliau sesuai dengan apa yang beliau tuntunkan dan ajarkan kepada kita, tidak menggunakan shålawat-shålawat bid’ah seperti, shålawat nariyah, shålawat basyisyiyyah, shålawat badar dan lain sebagainya, yang dibuat-buat oleh tangan-tangan manusia, yang tidak pernah beliau ajarkan kepada kita.

Penutup

Demikianlah konsekuensi dalam rangka mewujudkan dan mengamalkan syahadat “wa asyhadu anna muhammadur råsulullåh”. Semoga kita Allåh subhanahu wa ta’ala memudahkan kita dalam mengamalkannya dan memberikan kita kekuatan agar tetap berada diatas jalan yang diridhåi-Nya. aamiin.

Sumber: “Haqqu an-Nabi Shallallahu ‘Alihi Wasallam ‘ala Ummatih, Yahya bin Musa al-Zahrani. (Dengan beberapa penambahan dari berbagai sumber)

Feb
10

Oleh : Abul Fudhåil

[1]. Sifat Al-’Izzah (Perkasa)

“Artinya : Maha Suci Rabbmu, Yang Memiliki Keperkasaan (‘lzzah), dari apa yang mereka katakan. Keselamatan semoga dilimpahkan kepada para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam.” [Ash-Shafat : 180-182]

Dalam ayat ini, Allah me-Mahasucikan diri-Nya dari apa yang disifatkan, oleh orang-orang yang menyelisihi para rasul, kepada-Nya, serta memberikan keselamatan kepada para rasul dikarenakan perkataan mereka bersih dari kekurangan dan cela.

[2]. Sifat Al-Ihathah (Meliputi)

“Artinya : Dialah yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin, dan Dia Mulia Mengetahui segala sesuatu.”[Al-Hadid : 3]

Firman Allah di atas ditafsirkan dengan sabda Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya:

“Artinya : Ya Allah, Engkaulah Al-Awwal, maka tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu; Engkaulah Al-Aakhir, maka tidak ada sesuatu pun sesudah-Mu; Engkaulah Azh-Zhahir, maka tidak ada sesuatu pun di atas-Mu; dan Engkaulah Al-Bathin, maka tidak ada sesuatu pun di bawah-Mu.”[Shahih Muslim IV/2084. Lihat juga Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Al-Haras, hal. 42.]

Ayat dan hadits di atas menunjukkan sifat Al-Ihathah Az-Zamaniyah (meliputi waktu) yaitu pernyataan, “Dialah Al-Awwal dan Al-Akhir; serta Al-Ihathah Al-Makaniyah (meliputi tempat), yaitu pernyataan, “Dan Azh-Zhahir dan Al-Bathin.”

[3]. Sifat Al-Ilmu (Mengetahui) [4]. Sifat Al-Hikmah (Bijaksana) [5]. Sifat Al-Khibrah (Mengetahui)

“Artinya : Sesungguhnya, Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [Yusuf : 100].

“Artinya : Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” [Al-An’am : 18]

Al-Ilmu merupakan salah satu sifat Dzatiyah yang tidak akan pernah lepas dari Allah Ta’ala. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu, secara global maupun terperinci. Kebijaksanaan Allah berlaku didunia maupun di akhirat. Apabila Allah menyempurnakan sesuatu, maka sesuatu itu tidak mengandung kerusakan. Allah telah menciptakan manusia dan Dia Maha Suci, Maha Bijaksana, lagi Maha Mengetahui. [Lihat Al-Ajwibah Al-Ushuliyah, hal.42]

[6]. Sifat Ar-Rizq (Memberi Rezki) [7] . Al-Quwwah (Kuat) [8]. Al-Matanah (Kokoh)

“Artinya : Sesungguhnya Allah Maha Pemberi Rezki, Yang Mempunyai Kekuatan, dan Yang Sangat Kokoh.” [Adz-Dariat : 58]

Ar-Razzaq artinya Yang banyak memberi rezki secara luas (sebagaimana ditunjukkan oleh shighah mubalaghah bentuk kata yang menyangatkan. Apapun rezki yang ada di alam semesta ini berasal dari Allah Ta’ala. Rezki itu ada dua :

Pertama, Rezki yang manfaatnya berlanjut sejak di dunia hingga di akhirat, yaitu rezki hati. Contohnya : Ilmu, iman, dan rezki halal.

Kedua, Rezki yang secara umum diberikan kepada seluruh manusia, yang shalih maupun yang jahat, termasuk binatang dan lain-lain.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki sifat Al-Quwwah (Kekuatan), Al-Qawiy artinya adalah Syadidul Quwwah (Sangat Kuat). Maka, Al-Qawiy merupakan salah satu nama-Nya, yang berarti Yang Memiliki Sifat Kuat. Adapun Al-Matin berarti Yang Memiliki Puncak Kekuatan dan Kekuasaan. [Ar-Raudhah An-Nadiyah, hal. 74]

[9]. As-Sam’u (Mendengar) [10]. Al-Bashar (Melihat)

“Artinya : Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [Asy-Sura: 11]

Di antara sifat-sifat Dzatiyah Allah adalah As-Sam’u dan Al-Bashar. Jadi, Allah memiliki sifat mendengar dan melihat, sesuai dengan keagungan-Nya, tidak sebagaimana mendengar dan melihatnya makhluk-Nya. Bahkan, pendengaran-Nya meliputi segala hal yang terdengar, dan Dia Melihat dan menyaksikan segala sesuatu, sekalipun sesuatu tersebut tersembunyi secara lahir maupun batin. [Lihat Ar-Raudhah An-Nadiyah, hal. 74 dan 112]

Seorang penyair berkata :

Duhai Dzat Yang Melihat nyamuk,
ketika mengembangkan sayapnya
Di kegelapan malam yang pekat dan kelam
Dan Melihat urat syaraf di lehernya
Juga otak yang didalam tulang-tulang
nan amat mungil itu
Berikanlah kepadaku, ampunan yang menghapuskan
Dosa-dosa yang kulakukan, sejak kali pertama

[11]. Sifat Al-Iradah Dan [12]. Sifat Al-Masyi’ah (Menghendaki)

“Artinya : Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” [Al-Baqarah : 253]

“Artinya : Barangsiapa yang Allah berkehendak untuk memberikan petunjuk kepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam. Dan barangsiapa yang Allah berkehendak untuk menyesatkannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit.”[Al-An’am : 125]

Iradah (kehendak) Allah terbagi menjadi dua :

[1]. Al-Iradah Al-Kauniyah

Al-Iradah Al-Kauniyah ini bersinonim dengan Al-Masyi’ah. Iradah Kauniyah atau Masyi’ah ini berkenaan dengan apa saja yang hendak dilakukan dan diadakan oleh Allah Subhanallahu wa Ta’ala Apabila Allah Subhanallahu wa Ta’ala menghendaki terjadinya sesuatu, maka sesuatu itu terjadi begitu. Dia menghendakinya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

“Artinya : Sesungguhnya pcrintah-Nya, apabila Dia menghendaki sesuatu, hanyalah berkata kepadanya”Kun” (Jadilah), maka terjadilah ia.” [Yasin : 82]

Jadi, apapun yang dikehendaki oleh Allah, niscaya terjadi, sedangkan apapun yang dikehendaki Allah untuk tidak terjadi, niscaya tidak terjadi.

[2]. Al-Iradah Asy-Syar’iyah

Iradah ini berkaitan dengan apa saja yang diperintahkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya, berupa hal-hal yang dicintai dan diridhai-Nya. Iradah ini disebutkan, misalnya, dalam firman Allah Ta’ala :

“Artinya : Allah menghendaki kemudahan bagimn, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” [Al-Baqarah : 185]

Perbedaan Antara Kedua Iradah Ini

Al-Iradah Al-Kauniyah Al-Qadariyah bersifat umum, meliputi seluruh peristiwa dan apapun yang terjadi di jagad raya ini, entah berupa kebaikan maupun keburukan, kekafiran maupun keimanan, dan ketaatan maupun kemaksiatan.

Adapun Al-Iradah Ad-Diniyah Asy-Syar’iyah bersifat khusus berkaitan dengan apa saja yang dicintai dan diridhai oleh Allah, yang dijelaskan di dalam Al-Kitab dan As-sunah.

Kedua Iradah di atas berpadu pada diri seorang hamba yang taat. Adapun orang yang bermaksiat dan kafir hanya mengikuti Al-Iradah Al-Kauniyah Al-Qadariyah. Artinya, ketaatan seseorang itu sesuai dengan iradah (kehendak) Allah, baik Al-Iradah Ad-Diniyah Asy-Syar’iyah maupun Al-Iradah Al-Kauniyah Al-Qadariyah. Adapun orang kafir, perbuatannya itu sesuai dengan iradah kauniyah qadariyah, tetapi tidak sesuai dengan iradah diniyah syar’iyah. [Al-‘Aqidah Ath-Thawiyah, hal.116, Syarh Al-Wasithiyah Al-Haras, hal. 52 dan Al-Ushuliyah, hal.48]

[13]. Sifat Al-Mahabbah (Cinta) [14]. Al-Mawaddah (Cinta yang Murni)

“Artinya : Dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” [Al-Baqarah : 195]

Cinta Allah itu merupakan sifat yang sesuai dengan keagunganNya, sebagaimana telah dijelaskan di muka. la merupakan sifat Fi’liyah, yang muncul disebabkan dilaksanakannya perintah Allah, yaitu ibadah kepada Allah dengan baik dan perbuatan baik kepada hamba-hamba-Nya. Demikian halnya sifat Mawaddah. Karena Allah berfirman :

“Artinya : Dan Dia Maha Pengampun dan Maha Pencinta dengan kecintaan yang murni.” [Al-Buruj : 14]

Al-Wudd artinya kecintaan yang bersih dan murni.

[15]. Sifat Ar-Rahmah (Kasih Sayang) [16]. Al-Maghfirah (Mengampuni)

“Artinya : Wahai Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi sesutu.” [Ghafir : 7]

“Artinya : Dan Dia Yang memberikan ampunan dan sayang.” [Yunus : 107]

Pada ayat pertama, Allah menetapkan sifat rahmah bagi diriNya, sedangkan pada ayat kedua, Allah Subhanallahu wa Ta’ala menetapkan sifat Maghfirah. Kita menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi diriNya, dengan artian yang layak bagi-Nya

[17]. Sifat Ar-Ridha [18]. Al-Ghadhab (Marah) [19]. As-Sukht (Murka)

[20]. Al-La’n (Melaknat) [2l]. Al-Karahiyah (Benci) [22]. Al-Asaf (Marah) [23]. Al-Maqt (Murka)

“Artinya : Allah meridhai mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” [Al-Bayyinah : 8]

“Artinya : Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin secara sengaja, maka balasannya adalah Jahannam, ia kekal di dalamnya, sedangkan Allah marah dan melaknatnya.” [An-Nisa’ : 43]

“Artinya : Itu dikarenakan mereka mengikuti apa yang menjadikan Allah murka dan mereka membenci keridhaan-Nya.” [Muhammad : 28]

“Artinya : Maka ketika mereka telah menyebabkan Kami marah, maka Kami menghukum mereka.” [Az-Zukhruf : 55]

“Artinya : Amat besarlah kemurkaan di sisi Allah, jika kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” [Ash-Shaf : 3]

“Artinya : Tetapi Allah membenci keberangkatan mereka.” [At-Taubah : 46]

Dalam ayat-ayat ini, Allah menetapkan bagi diri-Nya sifat Al-Ghadhab, marah, As-Sukht, murka, Ar- Ridha, Al-La’n (melaknat), Al-Karahiyah (benci), Al- Asaf (marah), serta Al-Maqt (murka). Ini semua merupakan sifat-sifat Af’al (perbuatan) yang dilakukan oleh Allah ‘Azza wa Jalla, bila Dia menghendaki. Selain menetapkan sifat-sifat Dzatiyah bagi Allah, Ahlus Sunnah wal Jama’ah juga menetapkan sifat-sifat Fi’liyah-Nya yang bersifat ikhtiyari, dengan makna yang laik dengan keagungan-Nya7

[24]. Al-Maji’ (Tiba) [25]. Al-Ityan (Datang)

“Artinya : Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan kedatangan Allah dan malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, dan diputuskanlah perkaranya.” [Al-Baqarah : 210]

“Artinya : ]angan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut. Dan tibalah Rabbmu sedangkan malaikat berbaris-baris.” [Al-Fajr : 21-22]

Ayat-ayat yang disebutkan oleh penulis ini, juga ayat-ayat yang lain, memuat penetapan sifat Al-Maji’ (tiba’) dan Al-ltyan (datang), demikian pula sifat An-Nuzul (turun), sesuai dengan makna yang laik dengan keagungan Allah Ta’ala. Perbuatan-perbuatan ikhtiari ini dilakukan berkaitan dengan Al-Masyi’ah (kehendak) dan Al-Qudrah (kemampuan) Allah.

[26]. Sifat Al-Wajhu (Wajah) [27]. Al-Yadain (Dua Tangan) [28]. Al-’Ainain (Dua Mata)

“Artinya : Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” [Ar-Rahman : 27]

“Artinya : Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Rabbmu, sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Mata Kami” [Ath-Thur : 48]

“Artinya : Apakah yang mcnghalangi kamu sujud kepada (Adam) yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku.” [Shad : 75]

Dalam ayat-ayat ini terkandung penetapan wajah, dua tangan, dan dua mata bagi Allah Ta’ala, dengan sifat yang sesuai dengan kebesaran-Nya. Adapun hadits yang menunjukkan sifat dua mata ini, adalah sabda Nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam :

“Artinya : Sesungguhnya Rabbmu tidak buta sebelah matanya.” [Fathul Bari XII/91 dan Muslim IV/2248]

[29]. Sifat Al-Makru (Makar) [30]. Al-Kaid (Tipu Daya)

“Artinya : Mereka (orang-orang kafir itu) membuat makar, dan Allah membalas makar mereka. Dan Allah sebaik-baik pembuat makar.” [Ali Imran : 54]

“Artinya : Sesungguhnya mereka (orang-orang kafir itu) me-rencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-be-narnya. Dan Aku pun merencanakan tipu daya pula, dengan sebenar-benarnya.” [Ath-Thariq : 15-16]

“Artinya : Dan Dia-lah Dzat Yang Maha keras tipu daya-Nya.” [Ar-Ra’d : 13]

Allah telah menetapkan bagi diri-Nya sifat-sifat yang tersebut dalam ayat-ayat tersebut, yaitu : Makar, Al-Kaid (tipu daya), dan Al-Mumahalah (tipu daya). Ini semua merupakan sifat Fi’liyah yang ada pada Allah, dengan makna yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya.

Namun, dari sifat-sifat Fi’liyah ini tidak boleh diambil nama, sehingga tidak boleh mengatakan : bahwa salah satu nama-Nya adalah Al-Makir (Maha Makar), atau Al-Kaaid (Yang Maha Menipu Daya), karena nama tersebut tidak disebutkan. Kita berhenti pada apa yang tersebut saja, yaitu bahwa Dia Subhanallahu wa Ta’ala adalah sebaik-baik pembuat makar dan bahwa Dia merencanakan tipu daya terhadap musuh-musuh-Nya yang kafir itu.

Jadi Allah mensifati diri-Nya dengan sifat makar dan menipu daya sebagai balasan, sebagaimana dalam firman-Nya :

“Artinya : Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa.” [Asy-Syura : 40]

Sifat tersebut termasuk dalam kategori ini, yaitu menimpakan makar dan tipu muslihat kepada siapa yang layak, sebagai hukuman baginya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengakui untuk diri-Nya perbuatan-perbuatan, akan tetapi Dia tidak menamai diri-Nya dengan isim fa’il dari perbuatan-perbuatan tersebut.

Misalnya : Araada, -menghendaki- , syaa’a, -menghendaki-, ahdatsa, -mengadakan- , akan tetapi Allah tidak menyebut diriNya dengan nama Asy-Syaa’i (Yang Menghendaki), Al-Murid (Yang Menghendaki), Al-Muhdits (Yang Mengadakan). Dia juga tidak menyebut diri-Nya dengan nama Ash-Shani’ (Yang Mem-buat), Al-Fail (Yang Berbuat), Al-Mutqin (Yang Membuat dengan kokoh), dan nama-nama lain yang diambil dari perbuatan-perbuatan yang dinyatakan Allah sebagai perbuatan diri-Nya.

Jadi, bab Af’al (perbuatan-perbuatan), lebih luas daripada bab Asma’ (nama-nama). Tetapi, apa yang dinyatakan oleh Allah untuk diri-Nya, maka kitapun meyakininya, misalnya firman-Nya :

“Artinya : Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya”. [Al-Buruj : 16]

“Artinya : Begitulah perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh segala sesuatu.” [An-Naml : 88]

[31]. Sifat Al-’Afwu (Memaafkan) [32]. Al-Maghfirah (Mengampuni) [34] Al-’Izzah (Mulia) Dan Al- Qudrah (Kuasa, Mampu)

“Artinya : Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan, menyem-bunyikan, atau memaafkan suatu kesalahan (oranglain), maka sesunggulmya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.” [An-Nisa’ : 149]

“Artinya : Padahal, kemuliaan hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman.” [Al-Munafiqun : 8]

“Artinya : Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampuni? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penya-yang.” [An-Nur : 22]

Dalam ayat-ayat di atas, Allah Subhanallahu wa Ta’ala menetapkan bagi diri-Nya sifat Al-’afwu (memaafkan), Al-maghfirah (mengampuni), Al-’Izzah (mulia), dan Al-Qudrah (kuasa, mampu), karena itu kita pun meyakininya sebagai sifat Allah, dengan makna yang layak bagi-Nya, tidak ada satupun dari makhluk-makhluk-Nya yang menyerupai sifat-sifat tersebut.

[Ar-Raudhah An-Nadiyah, hal.115, Al-Kawasyif Al-Jaliyah, hal.267, dan Mukhtashar Ash-Shawa’iq Al-Mursalah Ala Al-Jahmiyahwal Mu’athilah, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah II/31-35]

[35]. Sifat Al-Istiwa’ (Bersemayam) [36]. Al-’Uluw (Tinggi)

“Artinya : Allah Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy.” [Thaha : 5]

Sifat itu disebutkan oleh Allah Subhanallahu wa ta’ala di tujuh tempat dalam kitab-Nya dan kita meyakini apa yang telah ditegaskan oleh Allah bagi diri-Nya. Kita mengatakan bahwa Dia benar-benar bersemayam, dengan sifat bersemayam yang layak dengan kebesaran-Nya. Bersemayam itu telah diketahui artinya, bagaimananya tidak diketahui, mengimaninya merupakan kewajiban, sedangkan bertanya mengenainya adalah bid’ah, dan inilah madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah. [“Fatawa” Ibnu Taimiyah V/144]

“Artinya : Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih dinaikkan-Nya.” [Fathir : 10]

Al-Uluw (Tinggi) merupakan sifat Dzatiy bagi Allah Ta’ala. dia memiliki ketinggian absolut : ketinggian dzat, ketinggian kekuasaan, dan ketinggian pemaksaan [“Ar-Raudhah An-Nadiyah”, hal.131] dalam hadits disebutkan :

“‘Artinya : Arsy itu -di atas air, sedangkan Allah di atas ‘Arsy dan Dia mengetahui apa yang kamu di atasnya.” [[Hadits diriwayatkan oleh Abu Daud. Lihat “Aunul Ma’bud” XIII/14. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam”Mukhtashar Al-‘Uluw lil “Aliyyi Al-Ghaffar”, hal.103]

[37]. Sifat Al-Ma’iyah (Kebersamaan) Bagi Allah Ta’ala

“Artinya : Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam cnam masa; kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya, juga apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Mdihat apa yang kamu kerjakan.” [Al-Hadid : 4]

“Artinya : Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa ‘dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” [An-Nahl : 128]

Dalam ayat-ayat ini, kita menemukan bahwa Allah Ta’ala telah menetapkan bagi diri-Nya sifat Al-Ma’iyah (kebersamaan). Ma’iyah ini terbagi menjadi dua macam :

[1]. Kebersamaan Allah dengan seluruh makhluk, yang konsekuensinya berupa sifat Al-llmu (mengetahui), Al-lhathah (meliputi), dan Al-Ithla’ (melihat). Dalil kebersamaan ini adalah apa yang terkandung dalam surah Al-Hadid di depan.

[2]. Kebersamaan Allah khusus dengan orang-or-ang yang beriman dan bertakwa, yang konsekwensinya berupa penjagaan, perhatian, dan pertolongan. Kebersamaan yang umum, termasuk salah satu sifat Dzatiyah, sedangkan kebersamaan yang khusus, termasuk salah satu sifat Fi’liyah. Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya, bila seseorang dari kamu berdiri dalam shalatnya, maka ia sesungguhnya bermunajat kcpada Rabbnya. Rabbnya berada diantara dirinya dan kiblat. Karena itu, janganlah salah seorang dari kamu meludah di hadapan wajahnya, tetapi hendaklah ia meludah di sebelah kirinya atau di bawah kedua telapak kakinya.” Dalam riwayat lain, “… atau di bawah telapak kaki kirinya.”[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, “Fathul Bari” I/84 dan Muslim IV/2303]

” Artinya : Yang kamu seru dalam doamu lebih dekat kepada salah seorang dari kamu, daripada leher kendaraan tunggangan salah seorang dari kamu.” [Fathul Bari XI/500 dan Muslim IV/2077, lafazh ini milik Muslim. Lihat Fatawa Ibnu Taimiyah V/103]

[38]. Sifat Al-Kalam (Berbicara)

“Artinya : Dan Allah berbicara kepada Musa dengan langsung.” [An-Nisa’ : 164]

Ayat ini, juga ayat-ayat lain yang disebutkan oleh penulis, menunjukkan bahwa Allah benar-benar berbicara dengan pembicaraan yang sesuai dengan kebesaran-Nya. Dia berbicara bila Dia menghendaki, tentang apa yang Dia kehendaki, dan kapan saja Dia menghendaki. Dia, benar-benar telah berbicara dengan Al-Qur’an dan kitab-kitab lain yang diturunkan kepada para nabi ‘alaihimush shalatu wassalam. Al-Qur’an adalah kalam-Nya Subhanahu wa Ta’ala , diturunkan, bukan makhluk, bermula dari-Nya dan akan kembali kepa-da-Nya.

Bila manusia menulis Al-Qur’an di mushaf atau membacanya, maka hal itu tidak merubah keberadaannya sebagai Kalam Allah. Karena perkataan itu disandarkan kepada siapa yang mengatakannya pertama kali, bukan kepada siapa yang menyampaikannya. Allah telah berbicara dengan huruf-hurufnya dan makna-maknanya, dengan lafazh dari diri-Nya sendiri, tidak sedikit pun dari hal itu yang berasal dari selain-Nya.

Jadi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berbicara dengan perkataan yang dari segi jenisnya adalah Qodim , akan tetapi dari segi satu persatunya adalah Hadits (baru), dan Dia terus-menerus berbicara dengan huruf, suara, dan perkataan yang didengar oleh siapa saja di antara makhluk-Nya yang Dia kehendaki. Dia akan berbicara kepada orang-orang mukmin pada Hari Kiamat dan sebaliknya mereka berbicara kepada-Nya. Pembicaraan-Nya terjadi dengan dzat-Nya dan merupakan sifat Dzat sekaligus sifat perbuatan, karena itu ia masih dan akan terus berbicara apabila la menghendaki, dengan pembicaraan yang sesuai dengan kebesaran-Nya [“Ar-Raudhah An-Nadiyah”, 146, “Al-Ajwibah Al-Ushuliyah”, 93, dan “Syarh Al-Wasithiyah”, Al-Haras, hal.96]

Nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam telah bersabda :

“Artinya : Tidak ada seorang pun di antara kamu, kecuali Rabb-nya akan berbicara dengannya, tanpa perantara seorang penerjemah.[Diriwayatkan Al-Bukhari, “Fathul Bari” XI/377 dan Muslim I/201]

Beliau juga bersabda : Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

” Artinya : Wahai Adam! “Adam alaihissalam menjawab, “Ku-penuhi panggilan-Mu, saya sangat berbahagia menjumpai-Mu, dan segala kebaikan berada di kedua Tangan-Mu.” Nabi bersabda : Lalu Allah berfirman, “Keluarkanlah utusan naar!” Adam bertanya, “Apakah utusan naar itu !” Allah menjawab, “Untuk setiap seribu orang, ada 999 orang.” Nabi bersabda, “Itulah hari dimana anak kecil beruban, setiap wanita yang hamil melahirkan kandungannya, dan kamu melihat manusia mabuk padahal mereka tidak mabuk, akan tetapi siksa Allah itu sangat keras.” [Diriwayatkan Al-Bukhari, “Fathul Bari” XI/377 dan Muslim I/201]

[Disalin dari kitab Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah Li Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah, Penulis Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qathaniy, Edisi Indonesia Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Penerjemah Hawin Murtadho, Penerbit At-Tibyan, almanhaj.or.id]

Feb
10

Makna kalimah tauhid

Kalimah tauhid membawa pengertian mengetahui, berikrar, mengakui dan mempercayai bahawa sesungguhnya sembahan yang benar dan berhak disembah ialah Allah Subhanahu Wa Ta’ala (SWT)  semata-mata. Selain daripada-Nya, sama sekali tidak benar dan tidak berhak disembah. Penghayatan kalimah itu meliputi berikrar dengan hati, menyatakan dengan lidah dan membuktikan dengan perbuatan.

Tauhid ar-Rububiyyah dan Tauhid al-Uluhiyyah

Tauhid ar-Rububiyyah bermakna beri’tiqad bahawa Allah SWT  bersifat Esa, Pencipta, Pemelihara dan Tuan sekelian alam. Tauhid al-Uluhiyyah pula bermakna menjadikan Allah SWT sahaja sebagai sembahan yang sentiasa dipatuhi.

Pengertian lanjut Tauhid ar-Rububiyyah

Antara pengertian kalimah Rabb (       ) ialah:
1.    As-Sayyid (Tuan)
2.    Al-Malik (Yang Memiliki)
3.    Pencipta
4.    Penguasa
5.    Pendidik
6.    Pengasuh
7.    Penjaga
8.    Penguatkuasa.

Allah jua bersifat mutlak

Manusia, jika dia bersifat seperti memiliki dan berkuasa, maka sifatnya itu sementara. Segala sesuatu di alam ini kepunyaan Allah. Apa yang dimiliki makhluk hanyalah bersifat pinjaman dan majaz (kiasan). Hanya Allah sebagai Rabb al-’Alamin (Rabb sekelian alam) dan mempunyai segala sifat kesempurnaan. Dengan sifat-sifat-Nya yang Maha Sempurna mengakibatkan seluruh makhluk bergantung kepada-Nya, memerlukan pertolongan-Nya dan berharap kepada-Nya.

Manusia, jika dia cerdik, bijak dan pandai, maka semuanya itu datang daripada Allah. Segala kekayaan dan penguasaan manusia bukanlah miliknya yang mutlak tetapi datang daripada Allah.

Manusia dijadikan hanya sebagai makhluk. Dia tidak memiliki apa-apa melainkan setiap kuasa, tindak-tanduk, gerak nafas dan sebagainya datang daripada Allah.

Allah, Dialah Maha berkuasa, mencipta, menghidup dan mematikan. Dia berkuasa memberikan manfaat dan mudarat. Jika Allah mahu memberikan manfaat dan kelebihan kepada seseorang, tiada siapa mampu menghalang atau menolaknya. Jika Allah mahu memberikan mudarat dan keburukan kepada seseorang seperti sakit dan susah, tiada siapa dapat menghalang atau mencegahnya.

Oleh itu hanya Allah sahaja ‘mutafarriq’, bermakna hanya Allah yang berkuasa untuk memberikan manfaat atau mudarat.

Firman Allah SWT:

“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan kepadamu, maka tiada yang dapat menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dialah Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu.”
(Al-An’am: 17)

Dengan sifat-sifat Allah tersebut, maka timbullah kesan tauhid kepada seseorang. Dia hanya takut kepada Allah, dan berani untuk bertindak melakukan sesuatu kerana keyakinannya kepada Allah.

Manusia bersifat fakir

Manusia di dunia ini bersifat fakir (tidak memiliki apa-apa), sebaliknya sentiasa memerlukan pertolongan Allah. Firman Allah SWT di dalam Al-Hadith Al-Qudsi:

“Hai manusia, kamu semua  berada di dalam kesesatan kecuali mereka yang Aku berikan taufiq dan hidayah kepadanya. Oleh itu mintalah hidayah daripada-Ku.”

“Hai manusia, kamu semua lapar, kecuali mereka yang aku berikan makan, oleh itu mintalah rezeki daripada-Ku.”

“Hai manusia, kamu semua telanjang kecuali mereka yang Aku berikan pakaian. Oleh itu mohonlah pakaian daripada-Ku.”

Sifat fakir dan sifat kaya

Berhajatkan sesuatu adalah sifat semua makhluk. Manusia, haiwan, tumbuh-tumbuhan dan makhluk lain berhajatkan kepada Allah. Oleh itu semua makhluk bersifat fakir.

Allah Maha Kaya. Dia tidak berhajat kepada sesuatu. Jika manusia memiliki keyakinan ini maka dia akan sentiasa berbaik sangka terhadap Allah. Firman Allah SWT:

“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah, dan Allah, Dialah Yang Maha Kaya (yang tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Fathir: 15)

Fakir adalah sifat yang zati bagi setiap makhluk ciptaan Allah.  Kaya adalah sifat yang zati bagi al-Khaliq (Pencipta).

Dalil-Dalil Tauhid ar-Rububiyyah

Banyak dalil menunjukkan bahawa Allah itu Maha Esa dan tiada sesuatu menyamai Allah dari segi Rububiyyah. Antaranya:

1.  Lihatlah pada tulisan di papan hitam, sudah pasti ada yang menulisnya. Orang yang berakal waras akan mengatakan bahawa setiap sesuatu pasti ada pembuatnya.

2.    Semua benda di alam ini, daripada sekecil-kecilnya hinggalah sebesar-besarnya, menyaksikan bahawa Allah itu adalah Rabb al-’Alamin. Dia berhak ke atas semua kejadian di alam ini.

3.    Susunan alam yang mengkagumkan, indah dan tersusun rapi adalah bukti Allah Maha Pencipta. Jika alam boleh berkata-kata, dia akan menyatakan bahawa dirinya makhluk ciptaan Allah. Orang yang berakal waras akan berkata bahawa alam ini dijadikan oleh satu Zat Yang Maha Berkuasa, iaitu Allah. Tidak ada orang yang berakal waras akan menyatakan bahawa sesuatu itu boleh berlaku dengan sendiri.

Begitulah hebatnya Ilmu Allah. Pandanglah saja kepada kejadian manusia dan fikirkanlah betapa rapi dan seni ciptaan-Nya.

Terdapat seribu satu macam ciptaan Allah yang memiliki sifat yang berbeza-beza antara satu sama lain. Semuanya menunjukkan bahawa Allah adalah Rabb yang Maha Bijaksana .

Fitrah mengakui Rububiyyah Allah

Berikrar dan mengakui akan Rububiyyah Allah adalah suatu perkara yang dapat diterima. Hakikat ini terlintas dalam setiap fitrah manusia. Meskipun seseorang itu kafir, namun jauh di lubuk hatinya tetap mengakui Rububiyyah Allah SWT. Firman Allah SWT:

“Dan jika kamu bertanyakan mereka tentang: Siapakah pencipta mereka? Nescaya mereka menjawab: Allah.” (Az-Zukhruf: 87)

“Dan jika kamu bertanyakan mereka tentang:  Siapakah pencipta langit dan bumi?  Nescaya mereka menjawab: Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa dan Yang Maha Mengetahui.”(Az-Zukhruf: 9)

Tidaklah susah  untuk membuktikan Rububiyyah Allah SWT. Fitrah setiap insan adalah buktinya. Manusia yang mensyirik dan mengkufurkan Allah juga mengakui ketuhanan Allah Yang Maha Pencipta.

Al-Quran mengakui adanya Tauhid ar-Rububiyyah di dalam jiwa manusia

Al-Quran  mengingatkan bahawa fitrah atau jiwa manusia memang telah memiliki rasa mahu mengakui Allah Rabb al-’Alamin. Firman Allah SWT:

“Berkata rasul-rasul mereka: Apakah terdapat keraguan terhadap  Allah, Pencipta langit dan bumi.” (Ibrahim: 10)

“Dan mereka mengingkarinya kerana kezaliman dan kesombongan (mereka) pada hal hati mereka meyakini (kebenaran)nya.”(An-Naml: 14)

Keengganan dan keingkaran sebahagian manusia untuk mengakui kewujudan Allah sebagai al-Khaliq (Yang Maha Pencipta), sebenarnya didorong oleh perasaan sombong, degil (‘inad) dan keras hati. Hakikatnya, fitrah manusia tidak boleh kosong daripada memiliki perasaan mendalam yang mengakui kewujudan al-Khaliq.

Jika fitrah manusia bersih daripada sombong, degil, keras hati dan selaput-selaput yang menutupinya, maka secara spontan manusia akan terus menuju kepada Allah tanpa bersusah payah untuk melakukan sebarang pilihan. Secara langsung lidahnya akan menyebut Allah dan meminta pertolongan daripada-Nya.

Telatah manusia, apabila berada di saat-saat genting, tidak akan terfikir dan terlintas sesuatu di hatinya kecuali Allah sahaja. Ketika itu segenap perasaan dan fikirannya dipusatkan kepada Allah semata-mata. Benarlah Firman Allah SWT:

“Dan apabila mereka dilambung ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan keikhlasan kepada-Nya, maka ketika Allah menyelamatkan mereka lalu sebahagian daripada mereka tetap berada di jalan yang lurus. Dan tiada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain golongan yang tidak setia lagi ingkar.” (Luqman: 32)

Sesungguhnya permasalahan mengenai kewujudan Allah adalah mudah, jelas, terang dan nyata. Kewujudan Allah terbukti dengan dalil yang banyak dan pelbagai.

Tauhid al-Uluhiyyah

Maksud Tauhid al-Uluhiyyah ialah kita mentauhidkan Allah dalam peribadatan atau persembahan. Allah SWT mengutuskan para rasul bertujuan menyeru manusia  menerima Tauhid al-Uluhiyyah. Firman-firman Allah SWT yang berikut membuktikan hal tersebut:

“Dan Kami tidak mengutuskan seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahawasanya tiada tuhan melainkan Aku, maka kamu sekelian hendaklah menyembah Aku.” (Al-Anbiya’: 25)

“Dan sesungguhnya Kami telah utuskan pada setiap umat itu seorang rasul (untuk menyeru): Sembahlah Allah dan jauhilah Taghut.”  (An-Nahl: 36)

“Dan sesungguhnya Aku telah utuskan Nuh (nabi) kepada kaumnya, lalu dia berkata (menyeru): Wahai kaumku, hendaklah kamu menyembah Allah, (kerana) sesekali tiada tuhan melainkan Dia.”  (Al-Mu’minun: 23)

“Dan (Kami telah mengutuskan) kepada kaum ‘Ad saudara mereka Hud (nabi): Hai kaumku sembahlah Allah, sesekali tiada tuhan bagi kamu selain dari-Nya.” (Al ‘Araf: 65)

Cetusan rasa cinta kepada Allah

Menyembah atau beribadah kepada Allah dapat dilaksanakan apabila tercetus rasa cinta yang suci kepada Allah dan rela (ikhlas) menundukkan diri serendah-rendahnya kepada-Nya. Seseorang hamba itu disifatkan sedang menyembah Allah apabila dia menyerahkan seluruh jiwa raga kepada Allah, bertawakkal kepada Allah, berpegang teguh kepada ajaran-ajaran Allah, berpaut kepada ketentuan Allah, meminta (mengharap) serta memulang (menyerah) sesuatu hanya kepada Allah, berjinak-jinak dengan Allah dengan cara sentiasa mengingati-Nya, melaksanakan segala syariat Allah dan memelihara segala perlakuan (akhlak, perkataan dan sebagainya) menurut cara-cara yang diredhai Allah.

‘Ubudiyyah yang semakin bertambah

Pengertian ‘ubudiyyah (pengabdian) kepada Allah akan bertambah sebati dan hebat kesannya dalam kehidupan manusia apabila semakin mendalam pengertian dan keinsafannya tentang hakikat bahawa manusia itu terlalu fakir di hadapan Allah. Manusia sentiasa bergantung dan berhajat kepada Allah. Manusia tidak boleh terlupus daripada kekuasaan dan pertolongan Allah walaupun sekelip mata.

Begitu juga dengan cinta atau kasih (hubb) manusia kepada Allah dan rasa rendah diri (khudu’) manusia kepada Allah yang akan bertambah teguh apabila semakin mantap ma’rifat dan kefahamannya terhadap sifat-sifat Allah, Asma’  Allah al-Husna (sifat-sifat Allah yang terpuji), kesempurnaan Allah dan kehebatan nikmat kurniaan Allah.

Semakin terisi telaga hati manusia dengan pengertian ‘ubudiyyah terhadap Allah semakin bebaslah dia daripada belenggu ‘ubudiyyah kepada selain daripada Allah. Seterusnya dia akan menjadi seorang hamba yang benar-benar tulus dan ikhlas mengabdikan diri kepada Allah. Itulah setinggi-tinggi darjat yang dapat dicapai oleh seseorang insan.

Allah telah menggambarkan di dalam al-Qur’an keadaan para rasul-Nya yang mulia dengan sifat-sifat ‘ubudiyyah di peringkat yang tinggi. Allah telah melukiskan rasa ‘ubudiyyah Rasulullah SAW pada malam sewaktu wahyu diturunkan, ketika baginda berda’wah dan semasa baginda mengalami peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Firman Allah SWT:

“Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan.” (An-Najm: 10)

“Dan ketika berdiri hamba-Nya (Muhammad) untuk menyembah-Nya (beribadat), hampir saja jin-jin itu mendesak-desak mengerumuninya.” (Al-Jin: 19)

“Maha Suci Allah yang memperjalankan hambanya (Muhammad) pada suatu malam dari Masjid al-Haram  ke Masjid al-Aqsa.” ( Al-Isra’: 1)

Tauhid al-Rububiyyah menghubungkan Tauhid al-Uluhiyyah

Seperti yang telah dinyatakan di atas, Tauhid al-Rububiyyah ialah mengakui keesaan Allah sebagai Rabb, Tuan, Penguasa, Pencipta dan Pengurnia secara mutlak. Tidak ada sekutu bagi-Nya di dalam  Rububiyyah.

Sesungguhnya kesanggupan dan kesediaan manusia mentauhidkan Allah dari segi Rububiyyah dengan segala pengertiannya akan menghubung atau menyebabkan manusia mengakui Tauhid al-Uluhiyyah iaitu mengesakan Allah dalam pengabdian. Secara spontan pula manusia akan mengakui bahawa Allah sahaja layak disembah, selain daripada-Nya tidak layak disembah walau dalam apa bentuk sekalipun.

Al-Quran terlebih dahulu memperingatkan orang-orang musyrikin Quraisy  agar mengakui Tauhid al-Rububiyyah. Apabila mereka menerima Tauhid al-Rububiyyah dan bersungguh-sungguh mengakuinya, maka terbinalah jambatan yang menghubungkan mereka dengan Tauhid al-Uluhiyyah. Hakikat ini jelas dan tidak boleh dicuai atau diselindungkan lagi. Firman Allah SWT:

“Apakah mereka mempersekutukan Allah dengan berhala-berhala yang tidak dapat menciptakan sesuatu apapun? Sedangkan berhala-berhala tersebut adalah buatan manusia.” (Al-A’raf: 191)

“Apakah (Allah) yang menciptakan segala sesuatu itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapakah kamu tidak mengambil pengajaran?” (An-Nahl: 17)

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu serukan selain daripada Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu daripada mereka, tiada mereka dapat merebutnya kembali daripada lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah pula yang disembah.” (Al-Hajj: 73)

Ayat-ayat tersebut mengingatkan orang-orang musyrikin mengenai suatu hakikat yang nyata iaitu sembahan-sembahan mereka adalah lemah, malah tidak berkuasa untuk mencipta sesuatu walaupun seekor lalat. Jika lalat itu mengambil atau merampas sesuatu daru mereka, maka mereka tidak berkuasa untuk mendapatkannya kembali. Ini menunjukkan betapa lemah yang meminta dan lemah pula yang dipinta. Oleh itu akal yang sejahtera tidak boleh menerima penyembahan selain daripada Allah. Dalam peribadatan mereka tidak boleh mempersekutukan sesuatu dengan Allah. Allah adalah al-Khaliq Yang Esa. Selain daripada-Nya adalah lemah dan dhaif belaka.

Tuhan-tuhan palsu yang tidak memiliki apa-apa

Al-Quran menghujah dan mengingatkan orang-orang musyrikin bahawa apa yang mereka sembah selain daripada Allah tidak memiliki sebutir atom pun sama ada di bumi mahupun di langit. Malah sembahan mereka sama sekali tidak menyamai Allah walaupun sebesar zarah sama ada di bumi mahupun di langit. Allah tidak mempunyai apa-apa keperluan dengan tuhan-tuhan palsu yang mereka sembah. Jika mereka menyedari hakikat ini, mereka akan merasai kewajipan untuk beribadat dengan ikhlas kepada Allah semata-mata. Firman Allah SWT:

“Katakanlah: Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak memiliki satu saham pun dalam penciptaan langit dan bumi, dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.” (Saba’: 22)

Al-Quran mengakui bahawa orang-orang musyrikin mengiktiraf sebahagian daripada Rububiyyah Allah seperti Allah itu Pemilik langit serta bumi dan Allah itu Pengurus kejadian-kejadian  di langit serta di bumi. Jika begitulah pengiktirafan mereka, sepatutnya mereka beriman dan menyembah Allah tanpa mempersekutukan-Nya. Firman Allah SWT:

“Katakanlah (kepada mereka): Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya jika kamu mengetahui? Mereka akan menjawab: Kepunyaan Allah. Katakanlah (kepada mereka): Apakah kamu tidak ingat?

“Katakanlah (kepada mereka): Siapakah yang mempunyai langit yang tujuh dan yang empunya ‘arasy yang besar? Mereka akan menjawab: Kepunyaan Allah. Katakanlah (kepada mereka): Apakah kamu tidak bertaqwa?

“Katakanlah (kepada mereka): Siapakah yang di tangan-Nya berada segala kekuasaan sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi daripada (azab)-Nya, jika kamu mengetahui? Mereka akan menjawab: Kepunyaan Allah. Katakanlah (kepada mereka): (Oleh yang demikian) dari jalan manakah kamu ditipu ?

“Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka dan sesungguhnya mereka sebenarnya orang-orang yang berdusta.”
(Al-Mu’minun: 84-90)

Sains dan aqidah tauhid

Penemuan-penemuan dalam bidang sains dan teknologi mengenai alam buana, atom, manusia, tumbuh-tumbuhan dan pelbagai bidang industri telah berjaya menyingkap keindahan dan ketelitian ciptaan Allah. Penemuan-penemuan dan rekaan-rekaan baru itu menguatkan lagi ajaran aqidah tauhid dan meneguhkan lagi keimanan orang-orang mu’min. Hasil-hasil kajian itu menunjukkan kebesaran dan keluasan kudrat serta ilmu Allah. Sesungguhnya di sebalik kehalusan ciptaan dan keindahan sistem sejagat ini pasti ada Penciptanya Yang Maha Basar dan Maha Berkuasa.

Kedudukan tauhid dalam Islam

Keseluruhan ajaran Islam berasaskan tauhid. Keseluruhan kandungan al-Quran berlegar di atas tauhid. Kandungan ayat-ayat al-Quran meliputi pengkhabaran tentang Allah, sifat Allah, kejadian Allah, perbuatan Allah dan pentadbiran Allah.

Al-Qur’an membincangkan tentang al-amr (perintah) dan anbiya’ Allah (nabi-nabi Allah) kerana kedua-duanya ada kaitan dengan penciptaan dan kekuasaan Allah terhadap makhluk-Nya. Al-Qur’an menerangkan segala bentuk balasan baik (pahala) untuk mereka yang mentaati Allah, Rasul dan syariat-Nya. Semua ini untuk mengajak  mereka menegakkan Tauhid al-Uluhiyyah dan Tauhid                 al-Rububiyyah.

Al-Qur’an menerangkan segala bentuk balasan siksa (dosa) untuk mereka yang tidak mematuhi syariat-Nya, menceritakan tentang keadaan orang-orang zaman dahulu yang telah menderhakai Allah. Semua ini untuk menjelaskan bahawa manusia perlu kembali kepada dasar tauhid dan ibadah kepada Allah.

Oleh itu tauhid adalah intipati atau asas Islam. Daripada tauhid terpancar segala sistem, perintah, hukum dan peraturan. Semua ibadat dan hukum dalam Islam bertujuan untuk menambah, memahir, menguat dan mengukuhkan lagi tauhid di dalam hati orang-orang mu’min.

Dengan tauhid seluruh dorongan manusia akan terbentuk

Dengan tauhid yang kuat, maka akan terbentukkan pelbagai dorongan yang ada dalam jiwa manusia. Dia akan takut hanya kepada Allah SWT dan berani mempertahankan keyakinannya seperti yang dipersaksikan dalam sirah Rasulullah dan para sahabat:

1.    Rasulullah SAW pernah memerintahkan Ali RA agar tidur di atas katilnya sebelum baginda keluar berhijrah ke Madinah, sedangkan musuh Islam begitu giat mengintip. Namun Sayyidina Ali sanggup berbuat mengikut perintah Rasulullah SAW kerana beliau yakin atas Kehendak dan Kekuasaan Allah.

2.    Khalid Ibn al-Walid RA pernah mengalami banyak calar dan luka pada badannya kerana berperang di jalan Allah. Namun dia tetap yakin dengan Kekuasaan Allah. Dia tetap meneruskan pertempuran melawan musuh.

3.    Bilal bin Rabah RA sanggup diheret di padang pasir, dijemur di bawah kepanasan matahari dan diseksa dengan batu besar diletakkan di atas tubuhnya. Dia tetap mempertahankan keimanannya.

Kini, ramai manusia yang kehilangan keyakinan ini. Mereka masih yakin kepada yang lain daripada Allah. Mereka takut kepada kegagalan, ketua, kematian dan sebagainya.

Oleh itu menjadi kewajipan bagi pendakwah-pendakwah Islam untuk mengembalikan manusia kepada keyakinan yang betul.

Syahadah bahawa Nabi Muhammad itu Rasulullah

Syahadah merupakan teras Islam yang kedua. Syahadah ini menuntut manusia mengetahui, membenar dan menyakini dengan muktamad (dengan i’tiqad yang jazim serta pegangan yang putus) bahawa Nabi Muhammad SAW adalah Rasulullah serta membuktikannya dengan perkataan dan perbuatan sekaligus.

Pembuktian dengan perkataan ialah melafazkan kalimah syahadah itu dengan lidah. Pembuktian dengan perbuatan ialah menegakkan tingkah laku (tatasusila) dan seluruh tindak-tanduk  yang bersesuaian dengan ajaran Nabi Muhammad SAW serta menuruti jejak langkah baginda.

Para rasul menegakkan tauhid

Pada dasarnya pengutusan para rasul bertujuan untuk mengesakan Allah dalam Tauhid al-Rububiyyah dan Tauhid al-Uluhiyyah. Dialah Tuhan Rabb al-’Alamin dan Tuhan para Rasul tersebut. Tiada tuhan yang sebenar melainkan Allah.

Tauhid al-Rububiyyah dan Tauhid al-Uluhiyyah menjelaskan kekuasaan Allah yang Maha Suci dalam pentadbiran urusan makhluk-Nya. Allah Pengurnia kemaslahatan dan kebaikan. Allah Penentu al-amr (perintah). Allah-lah Pengutus ar-Rasul untuk makhluk-Nya.

Manusia memerlukan rasul untuk mencapai kesempurnaan hidup

Tidak syak lagi untuk mencapai kesempurnaan hidup, manusia bukan sahaja berkehendakkan kepada makanan, pakaian, tempat berlindung dan keperluan-keperluan jasmani yang lain, bahkan manusia juga berkehendakkan sesuatu untuk memenuhi tuntutan roh. Dengan memenuhi tuntutan roh, manusia akan dapat mencapai taraf kesempurnaan sebagai manusia yang mulia dan berbeza dengan makhluk-makhluk yang lain.

Tugas para rasul adalah untuk memberitahu kepada manusia bahawa Allah
adalah enciptanya yang layak disembah dan Dialah yang meletakkan manusia di atas jalan lurus (sirat al-mustaqim). Dengan keyakinan ini barulah manusia dapat sampai ke jalan kebahagiaan dan kesempurnaan sebenar.

Manusia sendiri tidak dapat mengetahui perkara-perkara ghaib mengenai Pencipta dan sirat al-mustaqim dengan menggunakan kudrat dan akalnya yang lemah. Manusia kerap melakukan kesilapan. Untuk memikirkan mengenai Pencipta dan sirat al-mustaqim adalah di luar kemampuan akal manusia. Oleh itu pengutusan para rasul Allah menunjukkan kebijaksanaan-Nya dan merupakan rahmat yang paling besar untuk umat manusia. Para rasul Allah dilantik daripada golongan manusia sendiri supaya mereka dapat menggunakan kebiasaan dan bahasa yang dapat difahami oleh manusia. Seterusnya menyampaikan ajaran Allah, menjelaskan cara-cara untuk sampai kepada risalah-Nya dan menghuraikan cara mana untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Sungguh tidak patut sikap manusia sekiranya dia mengingkari Rasul Allah SWT. Firman Allah SWT:

“Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang sewajarnya ketika mana mereka berkata: Allah tidak menurunkan sesuatu pun untuk manusia.” (Al-An’am: 91)

Mengingkari kenabian Nabi Muhammad adalah kesalahan yang besar

Mengingkari kenabian Nabi Muhammad SAW setelah nyata dalil-dalil mengenai kebenaran dan kenabiannya bererti merendah dan melemahkan akal manusia. Sikap seperti ini merupakan keingkaran yang sangat buruk, kedegilan yang sangat tebal dan dosa yang sangat besar. Allah akan membalas sikap sebegini dengan balasan pedih.

Mengithbatkan (Mensabitkan) kenabian Muhammad SAW

Seseorang tidak boleh mendakwa bahawa dia nampak bintang-bintang di langit sekiranya dia mengingkari kewujudan matahari, sedangkan dia nampak matahari. Kalau dia mendakwa dan percaya juga, itu bertentangan dengan keimanannya terhadap apa yang dilihatnya. Begitu juga seseorang tidak boleh beriman kepada nabi-nabi lain sekiranya dia tidak mempercayai Nabi Muhammad SAW dan mengingkari kenabiannya.

Mengithbatkan (mensabitkan) kenabian Muhammad SAW bererti         mensabitkan juga kenabian seluruh para anbiya’ AS sepertimana yang tersebut di dalam al-Quran.

Oleh itu mengingkari perutusan sebarang rasul bererti membohongi sebahagian daripada apa yang terkandung di dalam al-Quran dan mengingkari risalah Islam.

Kesan dan implikasi keimanan kepada Nabi Muhammad SAW

Mengimani Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasulullah bererti mengimani secara mutlak dan sempurna bahawa segala perkara yang dibawa dan dikhabarkan oleh baginda datang daripada Allah SWT. Implikasinya agar manusia wajib membenar dan mentaati segala suruhan dan larangan Nabi Muhammad SAW dengan penuh redha dan ikhlas, tanpa was-was, tanpa rasa keberatan, tanpa rasa sempit dan tanpa rasa terpaksa.

Manusia perlu taat sepenuhnya kepada ajaran Nabi Muhammad SAW tanpa menimbulkan suasana berhujah, berdebat dan berbincang, seolah-olah ajaran itu datang daripada seorang manusia biasa. Beriman dengan Nabi Muhammad SAW tidak boleh sama sekali dengan cara mempercayai atau mengambil sebahagian dan meninggalkan sebahagian daripada ajarannya. Sikap sebegini adalah berlawanan dengan natijah yang sepatutnya lahir daripada keimanan terhadap Nabi Muhammad SAW.  Al-Quran kerap menyatakan nas-nas yang qat’i tentang implikasi keimanan kepada Nabi Muhammad SAW. Firman Allah SWT:

Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberikan rahmat.”
(Ali ‘Imran: 132)

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, nescaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kamu.” (Ali ‘Imran: 31)

“Katakanlah: Taatilah Allah dan Rasul-Nya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang kafir. (Ali ‘Imran: 32)

“Sesiapa yang mentaati Rasul maka sesungguhnya ia telah mentaati Allah.” (An-Nisa’: 80)

“Sesungguhnya jawapan orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, lalu mereka berkata: Kami dengar dan kami patuh. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An-Nur: 51)

“Dan sesiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, nescaya Allah akan memasukkannya ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan sesiapa yang berpaling nescaya Dia akan mengazab kamu dengan azab yang pedih.” (Al-Fath: 17)

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah, dan apa yang dilarang bagimu maka tinggallah.” (Al-Hasyr: 7)

“Dan tidak patut bagi lelaki-lelaki mukmin dan bagi perempuan-perempuan Mu’minah, apabila Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu ketetapan, ada pilihan lain bagi mereka tentang urusan mereka.” (Al-Ahzab: 36)

“Dan jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu  maka kembalilah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman dengan Allah dan Hari Akhirat.” (An-Nisa’: 59)

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa sesuatu keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima sepenuhnya.” (An-Nisa’: 65)

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpakan cubaan atau ditimpakan azab yang pedih.” (An-Nur: 63)

Nas-nas seperti yang tersebut di atas sememangnya  banyak di dalam al-Quran yang mengingatkan orang-orang beriman akan tanggungjawab mereka selepas beriman kepada Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul. Antaranya:

1.  Nas-nas itu menyuruh manusia mentaati Nabi Muhammad SAW, kerana taatkan baginda bererti taatkan Allah SWT. Balasan orang yang mentaatinya ialah Syurga an-Na’im dan balasan orang yang mengingkarinya ialah Neraka.

2.  Nas-nas itu menerangkan kepada orang-orang mukmin bahawa beriman kepada Nabi Muhammad SAW bererti mengikuti apa yang disuruhnya dan meninggalkan apa yang dilarangnya.

3.  Nas-nas itu menyuruh orang Islam yang bertelingkah pendapat agar kembali kepada Allah dan Rasul-Nya serta redha menuruti hukum Rasulullah SAW.

Natijah logik

Semua yang dinyatakan dalam nas-nas al-Quran di atas adalah natijah logik bagi seseorang yang beriman dengan Nabi Muhammad SAW. serta menerima dengan rela akan kerasulannya. Suatu hal yang bertentangan dan tidak diterima akal jika seseorang itu beriman kepada Nabi Muhammad SAW tetapi menentang atau tidak menerima dengan rela hati perkara yang dibawanya dengan alasan, misalnya, tidak sesuai dengan sesuatu kepercayaan.

Umpama seorang yang telah menaruh kepercayaan kepada seorang doktor mahir, sudah tentu dia menerima nasihat doktor itu dan mengikuti cara pengubatannya. Dia akan mematuhi cara-cara memakan ubat dan segala pantang larangnya. Dia tidak boleh menentang atau membahaskan kata-kata doktor pakar itu. Jika kepatuhan dan kerelaan seseorang pesakit terhadap doktor adalah suatu yang dianggap lumrah dan munasabah, padahal doktor itu mungkin tersalah, maka bagaimana pula sikap seseorang terhadap Rasulullah yang diutuskan oleh Allah SWT, sedangkan Rasulullah adalah penghulu bagi segala doktor?

Kewajipan terhadap Rasulullah SAW

Kewajipan seorang muslim terhadap Rasulullah SAW ialah membenarkan semua yang dibawanya, mematuhi segala perintah dan meninggalkan segala larangannya. Seseorang muslim itu hendaklah menerima ajaran baginda dengan sempurna, ikhlas dan rela seperti yang telah dinyatakan.

Kewajipan-kewajipan lain ialah:

1.  Mengasihi atau mencintai Rasulullah SAW lebih daripada mengasihi atau mencintai diri, anak, isteri, harta dan isi alam.

Sabda Rasulullah SAW:

“Tidak sempurna iman seseorang kamu sehinggalah dia sanggup menjadikan aku lebih dikasihi daripada dirinya, anaknya, hartanya dan manusia seluruhnya.”

Tanda manusia yang benar-benar mengasihi Rasulullah SAW ialah mengikuti baginda dengan penuh ikhlas. Dia segera mengerjakan apa yang disukai atau dikasihi baginda. Itulah tanda-tanda manusia yang benar-benar kasihkan Rasulullah SAW. Firman Allah SWT:

“Mereka bersumpah kepada kamu dengan nama Allah untuk mencari keredhaanmu, padahal Allah dan Rasul-Nya itulah yang lebih patut mereka cari keredhaannya jika mereka itu adalah orang-orang yang beriman.”
(At-Taubah: 62)

2.  Menghormati dan memuliakan Rasulullah SAW sama ada ketika baginda masih hidup atau telah wafat. Firman Allah SWT:

“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian yang lain.” (An-Nur: 63)

Rasulullah SAW bukanlah seperti manusia biasa. Baginda adalah Nabi dan Rasul. Rasulullah diutuskan untuk seluruh manusia. Maka wajarlah manusia membesar dan memuliakan baginda sehingga apabila memanggil baginda hendaklah memanggil: “Ya Rasulullah”, “Ya Nabiyullah”, “Ya Habibullah” dan sebagainya.

Antara cara menghormati dan memuliakan Rasulullah SAW ialah tidak mendahului baginda semasa bercakap dan tidak meninggikan suara. Firman Allah SWT:

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu meninggikan suaramu lebih daripada suara Nabi dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras sepertimana kerasnya suara sebahagian daripada kamu kepada sebahagian yang lain, supaya tidak terhapus pahala amalan kamusedangkan kamu tidak menyedarinya. Sesungguhnya orang-orang merendahkan suara di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka untuk bertaqwa. Bagi mereka keampunan dan pahala yang besar.” (Al-Hujurat: 1-3)

Menghormati dan memuliakan Nabi perlu terus berlanjutan sehingga selepas kewafatan baginda. Seseorang Muslim tidak boleh mengangkat suara di dalam Masjid an-Nabawi atau di sisi maqam baginda. Seseorang muslim wajib bersopan, bersungguh-sungguh dan redha ketika mendengar hadith baginda yang mulia. Seseorang muslim tidak boleh menafi atau menentang hadith-hadith baginda dengan pendapat-pendapat atau fikiran-fikiran yang karut dan menyesatkan. Jika seseorang muslim itu mendengar: “Qala Rasulullah S.A.W. (Sabda Rasulullah SAW), maka hendaklah dia memahami bahawa sabda baginda tidak boleh dibohongi oleh manusia. Oleh itu ia tidak boleh ditentang, bahkan hendaklah didengar, difahami dan diamalkan.

3.  Bersungguh-sungguh menghindarkan apa-apa yang boleh menyakiti Rasulullah Nabi SAW sama ada sedikit atau banyak. Menyakiti Rasulullah SAW adalah haram dan berdosa. Malah, menyakitinya boleh menyebabkan seseorang itu terkeluar daripada Islam. Firman Allah SWT:

“Dan tidak boleh kamu menyakiti hati Rasulullah.” (Al Ahzab: 53)

“Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu bagi mereka azab yang pedih.” (At-Taubah: 61)

Termasuk dalam pengertian menyakiti Rasulullah SAW ialah menghina atau mencerca para isteri baginda yang mulia. Isteri-isteri Rasulullah adalah “Ibu Orang-Orang Yang Beriman”. Begitu juga, dianggap menyakiti Rasulullah, sekiranya seseorang menghina atau mencerca “Ahl al-Bait” baginda.

4.  Membaca salawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW.  Firman Allah SWT:

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman bersalawatlah kamu kepada Nabi dan ucaplah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzab: 56)

Rujukan: Dr. Abdul Karim Zaidan, Usul Ad-Da’wah.

Feb
10

Mengenal Sosok Muda Imam Hasan Al-Banna

Nama “Hasan Al-Banna” selalu lekat dengan jamaah Al-Ikhwan Al-Muslimun, karena beliau adalah pendiri dan menjadi Mursyid ‘Am pertama jamaah tersebut. Sekalipun sang imam “Al-Banna” -semoga Allah merahmatinya-, tidak mengenyam kehidupan lebih dari 42 tahun, namun pada masa hidupnya banyak memberikan kontribusi dan prestasi yang besar sehingga banyak terjadi lompatan sejarah terutama dalam melakukan perubahan kehidupan umat menuju Islam dan dakwah Islam yang lebih cerah, banyak perubahan-perubahan yang dicapai olehnya, apalagi saat beliau hidup kondisi umat dalam keadaan yang begitu parah dan mengenaskan, keterbelakangan, ketidakberdayaan, kebodohan umat, dan ditambah dengan penjajahan barat.

42 tahun kalau diukur dari perjalanan sejarah merupakan waktu yang singkat, merupakan usia yang belum bisa memberikan apa-apa, walaupun umur sejarah tidak bisa diukur berdasarkan tahun dan hari, namun dapat juga diukur dari banyaknya peristiwa yang berdampak pada perubahan kondisi, situasi dan keadaan, dan inilah yang selalu melekat pada sosok Hasan Al-Banna, beliau banyak memberikan pengaruh dalam perubahan sejarah, dan beliau juga merupakan salah satu dari orang yang memberikan kontribusi melakukan perbaikan dan perubahan dalam tubuh umat. Sekalipun umur beliau relatif pendek namun beliau termasuk orang yang mampu membuat sejarah gemilang.

Setiap orang pasti memiliki faktor yang dapat dinilai mampu memberikan kontribusi dan saham dalam pembentukan karakter dan jati dirinya dan menentukan berbagai hakikat yang dipilihnya. Dan bagi pemerhati lingkungan yang di dalamnya hidup sang imam Al-Banna akan dapat menemukan awal yang baik, dan karena itu berakhir dengan baik. Seperti dalam ungkapan: “Akhir yang baik mesti diawali dengan permulaan yang baik”.

Dan imam Al-Banna kecil (muda) hidup dibawah naungan dan lingkungan yang bersih dan suci. Dan rumah yang di dalamnya hidup sang imam juga merupakan rumah yang tershibghah dengan shibghah islam yang hanif. Orang tuanya bernama syaikh Ahmad Abdurrahman Al-Bann. Beliau adalah seorang imam masjid di desanya, dan seorang tukang reparasi dan penjual jam. Namun disisi lain orang tuan Hasan Al-Banna adalah sosok pecinta ilmu dan buku, sehingga senang menuntut ilmu dan membaca buku, dan sebagian waktunya banyak dihabiskan untuk membaca dan menulis, dan beliau juga banyak menulis kitab, diantaranya adalah “Badai’ul Musnad fi Jam’I wa Tartiibi Musnad As-Syafi’I”, “Al-Fathu Ar-Robbani fi Tartiibi Musnad Ahmad As-Syaibani”, “Bulughul Amani min Asrori Al-fathu Ar-Robbani”

Bahwa komitmen dengan Islam dan manhaj robbani sangat membutuhkan pondasi utama pada lingkungan yang menggerakkannya, agar dapat tumbuh dan besar seperti pondasi tersebut, dan jika tidak ada lingkungan yang mendukung maka akan menjadi sirna dan mati sejak awal kehidupannya. Dan Allah telah memberikan karunia besar terhadap imam “Al-Banna” dengan lingkungan yang baik ini. Orang tuanya memberikan tarbiyah sejak awal dengan baik; meumbuhkan kecintaan  terhadap Islam kepada anaknya sejak dini, selalu memelihara bacaan dan hafalan Al-Qur’an, sehingga memberikan kepada pemuda tersebut waktu dan tenaga yang cerah dalam berfikir dan berdakwah, dan pada saat itu pula –yang mana pada saat itu- Islam telah tertutupi oleh kehidupan yang bebas dan politik yang rusak, tampak menjadi asing –bahkan aneh dan tidak wajar- melihat seorang pemuda yang begitu besar komitmennya terhadap ajaran Islam sampai pada masalah waktu, atau dalam menunaikan ibadah shalat dengan penuh kedisiplinan.

Sejak awal dapat kita lihat bahwa imam Al-Banna telah menentukan jalannya dan karakter hidupnya; yaitu jalan hidup yang beliau lakoninya dalam kehidupannya secara pribadi yang unik; komitmen terhadap Islam dan manhaj robbani dan interaksinya dengan orang lain dengan baik dan sesuai dengan ajaran Islam. Baliau begitu terkesan dengan hadits Nabi dan begitu kuat berpegang teguh dengannya; yaitu hadits Nabi saw: “Jagalah lima perkara sebelum datang lima perkara.. diantaranya adalah “masa mudamu sebelum datang masa tuamu”, begitupun dengan hadits Nabi saw lainnya: “ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada saat tidak ada naungan kecuali naungannya.. diantaranya adalah “seorang pemuda yang taat beribadah kepada Allah”.

Maka dari itu imam “Al-Banna” kehidupannya adalah islam dan tidak ada yang lain dalam diri dan hidupnya kecuali Islam. Hal itu tampak juga dengan jelas pada beberapa lembaga atau yayasan yang sejak kecil beliau loyal kepadanya, yang kesemuanya merupakan lembaga atau yayasan Islam, seperti “Jam’iyyah As-Suluk wal Akhlak” dan “Jama’ah An-Nahyu Al-Munkar”, dan beliau juga memiliki hubungan yang erat dengan harakah sufiyah yang pada saat itu marak tersebar di berbagai pelosok daerah dan kota di Mesir.

Adapun diantara faktor lain yang membantunya komitmen di jalan kebenaran adalah karena beliau begitu banyak beribadah dan taat kepada Allah, sejak mudanya beliau sering melakukan puasa sunnah, khususnya puasa sunnah yang berhubungan dengan hari-hari besar Islam, dan lebih banyak lagi beliau melakukan puasa hari sunnah senin dan hari kamis pada setiap minggunya, karena mentauladani sunnah nabi saw,  sebagaimana beliau juga sangat bersemangat melakukan puasa sunnah rajab dan sya’ban. Kebanyakan dari kita mungkin merasa asing dalam melakukan ketaatan seperti itu, atau merasa berat melakukannya terutama di saat kondisi zaman seperti ini. Sebagaiman usaha yang dilakukan imam Al-Banna dalam ketaatan juga menadapatkan kesulitan, terutama disaat kondisi yang saat itu dialami; adanya gerakan missionaries, globalisasi dan penjajahan yang telah meluas dan merambah dengan cepat di tengah kehidupan masyarakat Mesir saat itu; sehingga memberikan kontribusi yang besar dalam menjauhkan umat dari Islam apalagi untuk komitmen dengan ibadah dan ketaatan.

Namun imam Al-banna, hidup melawan arus, beliau berada dalam semangat Islam yang tinggi, berpegang dengan ketaatan dan ibadah kepada Allah, sekalipun umat saat itu sedang diliputi arus globalisasi dan pencampakkan jati diri Islam; sehingga mengakibatkan acuhnya umat terhadap Islam dan jauhnya umat –terutama para pemudanya- dari kehidupan beragama, apalagi juga banyaknya bermunculan seruan dan propaganda asing terhadap dunia Islam seperti liberalisme dan komunisme serta gerakan missionaris yang mengajak untuk jauh dari Islam dan berlaku hidup modernis seperti mereka.

Sekalipun demikian imam Al-Banna tetap berpegang teguh dan yakin dengan keislamannya bahkan merasa bangga dengannya. Dan pada saat berdiri Universitas Cairo, dan Dar El-Ulum merupakan salah satu bagian dari kuliah yang ada di dalamnya; yang di dalamnya menghadirkan ilmu-ilmu kontemporer, ditambah juga dengan ilmu-ilmu syariah dan pengetahuan tradisional yang telah masyhur di Universitas Al-Azhar sebelumnya. Dan -pada saat itu pula- Imam Al-Banna mendaftarkan diri untuk kuliah di Dar El-Ulum, walaupun beliau tidak merasa cukup dengan ilmu yang di dapat di kuliah sehingga beliau mencarinya ditempat yang lain sebagai tambahan; seperti beliau selalu hadir mengikuti majlis ilmu pimpinan syaikh Rasyid Ridha, dan beliau sangat terkesan dengan tafsirnya yang terkenal yaitu “Al-Manar”.

Namun hal tersebut tidak menghalangi dirinya mendapatkan nilai yang begitu baik dan cemerlang, sehingga beliau berhasil menamatkan kuliahnya dengan hasil yang gemilang, dan beliau merupakan angkatan pertama kuliah tersebut. Lalu -setelah itu- beliau diangkat sebagai guru pada madrasah ibtidaiyah disalah satu sekolah yang terletak di propinsi Ismailiyah, yaitu pada tahun 1927, dan di kota tersebut Imam Al-Banna muda tidak hanya terpaku pada jati dirinya sebagai guru madrasah ibtidaiyah, namun beliau juga menjadi da’i kepada Allah, yang pada saat itu masjid-masjid disana kosong dari pemuda. Sehigga tidak ada anak-anak muda yang sholat di masjid namun asyik dengan minuman alkohol yang memambukkan. Maka tampaklah beliau sebagai seorang pemuda yang ahli ibadah, taat kepada Allah dan sebagai da’i kepada Allah yang mengajak umat untuk kembali pada Islam yang hanif.

Dan di kota Ismailiyah pula Imam Al-Banna banyak melakukan interaksi dengan lembaga-lembaga Islam dan beliau tampil sebagai da’i dengan berbagai sarana yang dimiliki dan berkeliling ke berbagai tempat dan desa. Beliau pergi sebagai da’i dan membawa kabar gembira tentang agama Islam. Beliau menyeru dan mengajak manusia yang berada tempat-tempat perkumpulan mereka, dan diatara tempat perkumpulan yang sering belaiu datangi adalah café. Disana beliau memberikan kajian keagamaan, terutama pada sore hari ini, sehingga dengan kajian yang beliau sampaikan banyak menarik perhatian sebagian besar masyarakat pengunjung cafe; sehingga menjadikan pemilik café tersebut berlomba-lomba mengundang Imam Al-Banna untuk memberikan kajian sore di café-cefe milik mereka. Dan akhirnya di kota Ismailiyah –dengan taufik dari Allah- dan dengan keberkahan akan juhud dan keikhlasannya, Imam Al-Banna mampu mengeluarkan cahaya dakwah terbesar dan memberikan pengaruh yang sangat besar hingga saat ini. Yaitu berdirinya Gerakan Al-Ikhwan Al-Muslimun yang dipimpin langsung oleh Imam Al-Banna. Padahal saat itu umur beliau masih muda sekali, baru mencapai antara tidak terlalu muda, tidak baya dan juga tidak terlalu tua. Pemuda yang ahli ibadah itulah yang telah mampu mendirikan gerakan dakwah Islam terbesar di dunia saat ini.

Sosok Imam Al-Banna memiliki banyak keistimewaan, sosok yang universal dan seimbang, pemuda aktivis, seorang khatib yang antagonis, memiliki perasaan yang lembut, dan komunikatif dengan semua orang; baik dengan orang awam, petani dan buruh. Beliau juga seorang cendekiawan yang memiliki ilmu, yang mampu berinteraksi dengan para cendekiawan lainnya. Saat berada ditengah umat manusia, banyak yang takjub kepadanya baik dari kalangan cendekiawan, hartawan, awam, petani dan buruh serta yang lainnya. Ini semua sejalan dengan dakwahnya yang didasarkan pada pembentukan umat, dakwah dan individu yang seimbang dalam berbagai sisinya.

Dan Imam Al-Banna juga sangat memiliki karakter yang mampu memberikan pengaruh pada orang yang ada disekitarnya, hal ini kembali pada pondasi yang beliau miliki yaitu kedekatan diri kepada Allah -Kita berharap demikian dan kita tidak merasa paling suci kecuali hanya Allah-. Dan kita temukan bahwa dakwah Al-Ikhwan –dan Al-Ikhwan itu sendiri- telah terpengaruh dengan sosok imam Al-Banna; karakternya yang baik, ikhlas dan taat kepada Allah, yang kesemuanya bersumber pada cahaya kenabian. Sebagaimana beliau juga memiliki sosok yang mumpuni dan lemah lembut, selalu perhatian dan menolong orang-orang yang mazhlum, dan dalam sejarahnya telah banyak disaksikan bahwa usaha dan kerja al-ikhwan di berbagai tempat, daerah dan negara selalu membela hak-hak umat Islam yang terampas.

Oleh karena itulah bagi kita dapat mengambil ibrah dari perjalanan sosok pemuda yang berhimpun di dalamnya jiwa yang memiliki nilai-nilai mulia dan agung, bagaimana jiwa tersebut dapat mampu membangun generasi yang islami, tidak menyimpang dari jalan Allah dan menepati dan menunaikan amanah yang diembannya dengan optimal dan baik, sekalipun kondisi, ujian dan cobaan yang dihadapi selalu datang silih berganti dalam rangka berpegang teguh pada jalan Allah dan agama Islam serta dalam usaha meninggikan kalimat (agama) Allah dan mentauladani sirah nabi saw.

Sumber: www.ikhwanonline.com

Feb
06

I always waiting for the rainbow after rain has gone

looking to the sky and enjoy the beauty of rainbow

what a beauty colour

red

orange

yellow

green

blue

indigo

violet

all my favourite colours

like stairs to heaven

( Jakarta, feb 7, 2010)